Alergi Terhadap “Pesta Babi” : Sebuah signal performativity of repression dari penguasa kepada Masyarakat!

“Ketika Kebenaran Lebih Menakutkan dari Hantu”
Oleh Pdt. Andre Serhalawan

Disclaimer dulu ya.. bahwa tulisan ini Adalah pendapat pribadi atas fenomena alergi yang semantara melanda bangsa ini. Alergi itu bernama “pesta babi”.
Bingung juga ya, mau mulai dari mana… tetapi coba kalian dengar karena saya hendak cerita sesuatu. Bayangkan Anda seorang penguasa. Seorang yang terbiasa memberi perintah, duduk di kursi empuk, dikelilingi laporan yang sudah disaring sepuluh kali. Suatu hari, Anda mendengar kabar: ada sekelompok anak muda mau nobar (nonton bareng). Bukan film laga. Bukan film horor. Tapi film dokumenter yang berjudulnya “Pesta Babi”. Lalu Anda panik. Bukan panik biasa. Panik yang membuat Anda menelepon aparat, memerintahkan pembubaran, mengirim ancaman ke kampus, melarang diskusi. Panik yang membuat Anda begadang semalaman karena ketakutan… terhadap proyektor dan layar putih. Lucu, bukan?
Tapi mari kita bedah ketakutan ini secara serius, karena di balik kelucuan ada tragedi yang menganga. Mari saya katakan dengan terus terang: para penguasa tidak takut pada film. Mereka takut pada kebenaran yang dikemas rapi dan disajikan di ruang publik oleh Abang Dendi Laksono, om Victor Mambor. Apa isi Pesta Babi? Film ini menguak bagaimana jargon-jargon pembangunan yang indah seperti “ketahanan pangan”, “kesejahteraan rakyat”, “swasembada” semua bumbu ‘bagus’ itu ternyata menjadi tameng untuk menghancurkan hutan, merampas tanah milik masyarakat adat, dan menggusur mereka dengan dalih “pembangunan”.
Bayangkan skemanya seperti ini: “Kita akan bangun perkebunan sawit untuk ketahanan pangan!” teriak korporasi. “Ini demi kesejahteraan rakyat!” tambah pejabat. “Tanah adat? Ah, itu hanya hutan kosong,” bisik orang-orang dan Tim-Ses. Dan masyarakat adat yang sudah berabad-abad menjaga hutan, yang tahu persis bahwa setiap pohon punya nama dan setiap mata air punya cerita akhirnya mereka digusur, diusir atau dibungkam. Nah, film documenter “Pesta Babi” ini memperlihatkan semua itu baik dengan kamera dan data. Wajah-wajah kondisi nyata yang berbicara sendiri. Itulah yang membuat penguasa takut. Bukan darah! Bukan ledakan! Bukan kekerasan! Tapi wajah seorang ibu adat yang matanya berkaca-kaca bercerita bagaimana tanah leluhurnya diambil untuk “ketahanan pangan”. Itu lebih mengerikan dari film horor manapun.
Sekarang mari saya mengajak kita bicara soal nobar. Para pembubar mungkin berpikir: “Ah, ini cuma nobar biasa. Anak-anak muda kumpul, nonton, selesai.” SALAH BESAR. Nobar Pesta Babi bukan sekadar nobar. Ini adalah ritual demokrasi yang langka! Karena usai menonton, ada diskusi ilmiah. Mahasiswa, dosen, akademisi, aktivis, masyarakat duduk dalam satu ruang. Mereka berbicara dan bertukar pikiran. Tentu ada yang setuju dan ada pula yang kontra. Tapi semua dalam koridor nalar dan fakta! Inilah yang disebut demokrasi riil! Bukan demokrasi yang hanya dirayakan ketika pilkada atau pemilu, lalu lima tahun kemudian ‘babingung’. Bukan demokrasi yang hanya teriak “HIDUP DEMOKRASI!” tapi ketika ada yang beda pendapat langsung dibubarkan. Demokrasi riil adalah: Anda boleh mempertontonkan kebenaran, boleh mendengarkannya, lalu mendiskusikannya dengan argument kritis.
Nobar plus diskusi ilmiah adalah ruang kelas terbuka bagi siapa pun! Di sanalah masyarakat belajar membaca antara baris: “Oh, ternyata ketahanan pangan bisa jadi kedok.” “Oh, ternyata swasembada pangan tidak harus dengan mengorbankan hutan.” “Oh, ternyata pembangunan bisa dilakukan tanpa merampas.” Lucunya, tentu saja para penguasa takut pada ruang seperti ini, karena di ruang inilah kesadaran kritis lahir, bertumbuh dan berkembang. Dan kesadaran kritis adalah musuh utama bagi mereka yang berkuasa di atas kebohongan.
Coba bayangkan jika tanpa diskusi. Orang menonton film, lalu pulang. Apa yang terjadi? Mungkin mereka hanya membawa kemarahan yang mentah atau kebingungan mendalam, bahkan bisa jadi salah paham. Tapi ketika ada diskusi ilmiah dengan moderator, dengan narasumber yang kompeten, dengan sesi tanya jawab, maka emosi diolah menjadi analisis! Kemarahan diarahkan menjadi tuntutan kebijakan. Kebingungan berubah menjadi pemahaman sistematis. Itulah mengapa penguasa ketakutan setengah mati. Mereka tidak keberatan jika masyarakat menonton film lalu marah-marah sendiri di rumah. Tapi mereka sangat keberatan jika masyarakat menonton film lalu duduk bersama, memetakan masalah, dan menyusun langkah advokasi. Karena yang terakhir ini adalah bibit gerakan sosial. Dan gerakan sosial yang damai, rasional, terorganisir adalah momok bagi penguasa yang terbiasa menekan tanpa dialog. Inilah ironi terbesarnya!
Pesta Babi mengkritik penyempitan ruang sipil di Papua. Mengkritik keterlibatan militer dalam urusan warga sipil. Mengkritik bagaimana pembangunan menjadi alat kekerasan struktural. Lalu responsnya? Pembubaran, Pelarangan, dan Intimidasi (baik dari pihak kampus dan TNI/POLRI). Seakan-akan mereka yang melarang berteriak, “Lihat! Tidak benar bahwa ruang sipil menyempit! Buktinya kami masih bisa membubarkan diskusi dengan leluasa!”. Dalam teori, ini disebut performativity of repression. Tapi dalam bahasa yang lebih manusiawi: mereka membuktikan sendiri kebenaran film yang mereka larang. Ini sama seperti seseorang yang dituduh korupsi, lalu marah besar, menghabisi saksi, menghilangkan bukti, dan mengatakan, “Lihat? Saya tidak korupsi!” Ya jelas, buktinya sudah Anda musnahkan!
Saya ingin bertanya dengan nada paling sarkastis: Sejak kapan demokrasi sebegitu alergi terhadap kritik? Demokrasi seharusnya percaya diri. Demokrasi seharusnya berkata, “Silakan kritik saya. Saya punya telinga dan otak untuk menjawab.” Tapi jika demokrasi malah membubarkan diskusi, melarang nobar, mengintimidasi kampus itu bukan demokrasi. Itu otokrasi yang mengenakan topeng demokrasi. Seperti kucing yang menyamar jadi harimau. Suaranya sih meong, tapi cakarannya sudah disiapkan untuk mencabik siapa pun yang berani mendekat.
Berkaca dari kondisi saat ini, peribaha yang cocok adalah blessing in disguise sebab ada teori yang bernama Streisand Effect : semakin sesuatu ditekan atau disensor, semakin besar perhatian publik terhadap hal tersebut. Orang yang tadinya tidak tahu akhirnya mulai mencari tahu. Yang tadinya tidak tertarik justru jadi penasaran. Dan lihatlah apa yang terjadi sekarang. Film Pesta Babi yang awalnya mungkin hanya akan beredar di ruang-ruang diskusi terbatas di kalangan aktivis dan akademisi, tiba-tiba berubah menjadi perbincangan nasional bahkan internasional. Setiap kali ada berita tentang pembubaran nobar, setiap kali ada laporan tentang pelarangan pemutaran di kampus, setiap kali aparat turun tangan, nama ‘Pesta Babi’ semakin melambung di linimasa media sosial. Yang tadinya tidak tahu jadi sibuk Googling. Yang tadinya tidak peduli jadi kepo setengah mati. “Ah, film Pesta Babi itu isinya apa sih kok heboh amat?” Selamat, para pembubar dan pelarang. Kalian baru saja memasarkan film ini secara gratis hehehe. Marketing genius, really. Ini adalah ironi yang menggelitik sekaligus memilukan: respons berlebihan justru menjadi alat promosi paling ampuh yang tidak pernah diduga. Tetapi marilah kita tinggalkan blessing in disguise ini sejenak.
Saya rasa kita perlu memahami sumber ketakutan ini dengan lebih jernih. Para penguasa dan korporasi yang diuntungkan dari perampasan tanah tidak takut pada film. Mereka takut pada masyarakat yang melihat langsung bagaimana kebijakan bekerja di lapangan. Selama ini, mereka nyaman dengan narasi pembangunan yang mulus. “Kami membuka lahan untuk ketahanan pangan.” “Kami membangun infrastruktur untuk kesejahteraan.” Narasi itu mudah dijual di TV, di koran, di media sosial yang bisa dikontrol narasinya. Tapi ketika kamera Pesta Babi merekam langsung seorang petani adat yang tanahnya diambil, ketika mikrofon menangkap suara seorang ibu yang anaknya tidak bisa sekolah karena hutan tempat mereka bergantung hidup sudah rata, maka narasi mulus itu hancur berkeping-keping. Rakyat tidak bodoh. Mereka bisa membandingkan. Mereka bisa bertanya. Dan itulah yang paling ditakuti. Ini bukan sekadar soal film. Ini soal siapa yang berhak mendefinisikan pembangunan. Ini soal siapa yang berhak bercerita tentang kesejahteraan.
Selama ini, yang bicara hanya mereka yang duduk di balik meja, yang laporannya ditulis oleh konsultan dibayar korporasi, yang jarang sekali menginjakkan kaki di tanah yang mereka klaim “dibangun”. Lalu datanglah film dokumenter ini, membawa suara dari pinggiran, membawa perspektif dari mereka yang tanahnya dirampas, membawa tangis dari mereka yang hutannya digunduli. Dan itu membuat mereka panik. Bukan panik biasa. Panik total!
Jadi, untuk para pembubar dan pelarang: selamat menikmati efek balik dari kealergian kalian. Kini film yang tadinya hanya dikenal segelintir orang, berubah jadi bahan perbincangan nasional. Setiap tindakan represif yang kalian lakukan hanyalah menambah panjang daftar alasan mengapa film ini perlu ditonton. Setiap larangan yang kalian keluarkan hanyalah menambah bukti bahwa kritik dalam film itu benar adanya. Ibarat kata pepatah, “Karena kau tutup pintu, orang malah loncat jendela.” Tapi tenang, ini bukan ajakan loncat ini cuma ajakan menonton film dokumenter, duduk manis, bawa pop corn, lalu diskusi dengan kepala dingin.
Saya menulis ini bukan untuk memprovokasi kekerasan. Saya menulis ini untuk mengingatkan bahwa ketika sebuah film dokumenter dianggap begitu mengancam sampai harus dibubarkan dengan aparat, itu pertanda sesuatu yang sangat busuk dalam sistem kita. Bukan filmnya yang bermasalah. Tapi isinya yang terlalu jujur. Dan jika kejujuran dianggap sebagai ancaman, maka kita hidup dalam rezim yang telah kehilangan akal sehat.
Saya ingin mengajak anda yang membaca tulisan ini sekarang untuk tidak hanya marah. Tapi untuk bertindak dalam batas nalar. Dukung ruang-ruang diskusi. Hadiri nobar-nobar film dokumenter. Bacalah laporan tentang perampasan tanah. Bagikan informasi yang kredibel. Jangan biarkan ketakutan para penguasa membatasi rasa ingin tahu Anda. Karena demokrasi bukan hadiah yang jatuh dari langit. Demokrasi adalah kerja. Kerja untuk terus membuka ruang, terus menguak kebenaran, terus memastikan bahwa suara-suara yang dibungkam bisa didengar setidaknya melalui film, melalui diskusi, melalui tulisan seperti ini.

Mari tetap waras!!!!

  • Related Posts

    Kolaborasi Keluarga BEKAL PEMIMPIN: Menggerakkan Sere Wangi Menuju Kejayaan Ekonomi OAP Kampung Soa 2026

    Kampung Soa, Distrik Tanah Miring, Merauke — Di ujung selatan Papua, tersimpan harapan yang tumbuh dari akar budaya: Sere Wangi. Komoditas unggul yang selama ini hanya dikenal sebagai tanaman turun-temurun,…

    Read more

    “HUTAN SEBAGAI MAMA” Pendeta Perempuan Papua merespons dan merefleksikan Pikiran Pokok Sidang MPL PGI 2026

    Oleh : Pdt. Elvina Iha, S.Th.,MM (Pendeta Gereja Protestan Indonesia di Papua) Saya berdiri di sini bukan hanya sebagai seorang pendeta. Saya adalah anak perempuan dari Bumi Papua, yang menyapa…

    Read more

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    You Missed

    “Merauke Bersistem Error, Siak Berkantong Kosong: Ketika Jas Putih Harus Berteriak Menagih Hak”

    • By Admin
    • May 14, 2026
    • 28 views
    “Merauke Bersistem Error, Siak Berkantong Kosong: Ketika Jas Putih Harus Berteriak Menagih Hak”

    Alergi Terhadap “Pesta Babi” : Sebuah signal performativity of repression dari penguasa kepada Masyarakat!

    • By Admin
    • May 11, 2026
    • 155 views
    Alergi Terhadap “Pesta Babi” : Sebuah signal performativity of repression dari penguasa kepada Masyarakat!

    KETERASINGAN DALAM KERJA: KRITIK JACQUES ELLUL TERHADAP DUNIA KERJA

    • By Admin
    • May 1, 2026
    • 70 views
    KETERASINGAN DALAM KERJA: KRITIK JACQUES ELLUL TERHADAP DUNIA KERJA

    Kolaborasi Keluarga BEKAL PEMIMPIN: Menggerakkan Sere Wangi Menuju Kejayaan Ekonomi OAP Kampung Soa 2026

    • By Admin
    • April 22, 2026
    • 58 views
    Kolaborasi Keluarga BEKAL PEMIMPIN: Menggerakkan Sere Wangi Menuju Kejayaan Ekonomi OAP Kampung Soa 2026

    Siapa sih yang untung dari proyek padi ini?

    • By Admin
    • April 16, 2026
    • 37 views
    Siapa sih yang untung dari proyek padi ini?

    Susteran Marantha Bersaksi: Air Mata untuk Tanah yang Sekarat

    • By Admin
    • March 6, 2026
    • 262 views
    Susteran Marantha Bersaksi: Air Mata untuk Tanah yang Sekarat