Sebuah Esai Reflektif Memperingati Hari Buruh Internasional, 1 Mei 2026
Oleh : Pdt. Andre Serhalawan
“Kita telah menciptakan mesin yang melayani kita, lalu kita menghabiskan seluruh hidup untuk melayani mesin-mesin itu.” Kalimat ini bukan berasal dari novel distopia abad ke-21, melainkan dari Jacques Ellul, seorang filsuf Prancis yang menulis The Technological Society pada tahun 1954. Hari ini, 1 Mei 2026, saat kita kembali memperingati Hari Buruh Internasional, kata-kata Ellul terasa lebih mencekik dari sebelumnya. Mengapa? Karena kita sedang hidup di dalam ramalannya yang menjadi kenyataan.
Dua puluh dua tahun lalu, tepatnya pada tahun 2004, saya menulis sebuah opini di Manado Pos berjudul “Keterasingan Dalam Kerja, Sebuah Kritik Jacques Ellul dalam Memahami Diri dan Dunia Kerja.” Tulisan itu lahir dari pergumulan intelektual yang dipicu oleh mata kuliah Etika Sosial yang diasuh oleh Pdt. Martin Supit, melalui buku Manusia dan Teknologi: Telaah Filosofi J. Ellul karya J. Innocencio Menezes. Saat itu saya menulis untuk para wisudawan UKIT, sebagai pengingat bahwa ijazah dan karier jangan sampai menenggelamkan kemanusiaan mereka. Hari ini, saya menulis lagi—bukan sebagai pengulangan, tetapi sebagai teriakan peringatan yang lebih keras. Karena apa yang terjadi di tahun 2026 ini telah melampaui apa yang saya bayangkan dua dekade silam.
La Technique: Monster yang Kita Puja
Mari kita mulai dari inti pemikiran Ellul. Ia memperkenalkan konsep La Technique—sebuah istilah yang sering disalahpahami sebagai sekadar “teknologi” dalam arti mesin dan perangkat digital. Padahal, yang dimaksud Ellul jauh lebih dalam dan menakutkan. La Technique adalah “totalitas metode yang dicapai secara rasional dan memiliki efisiensi absolut dalam setiap bidang aktivitas manusia.” Ini adalah mentalitas, cara berpikir, logika yang selalu mencari “satu cara terbaik”—the one best method—untuk mencapai apapun dengan efisiensi maksimum.
Lihatlah dunia kerja kita di tahun 2026. Di kota-kota besar Indonesia, para pekerja tidak lagi diukur dari kreativitas, dedikasi, atau nilai kemanusiaan yang mereka bawa. Mereka diukur dari metrik-metrik digital yang kaku: key performance indicators, waktu respons rata-rata, jumlah klik, peringkat produktivitas yang dihitung algoritma. Tidakkah ini persis seperti yang digambarkan Ellul? La Technique yang merasuk ke dalam dunia kerja bukan hanya alat bantu, melainkan telah menjadi tuan yang kejam. Kita dipaksa menari mengikuti irama mesin, bukan mesin yang menyesuaikan diri dengan ritme kemanusiaan kita.
Keterasingan yang Tersamar
Ellul memperingatkan tentang otonomi Teknik: Teknik telah menjadi kekuatan yang tidak lagi tunduk pada kendali manusia. Ia berkembang dengan logikanya sendiri. Manusia tidak punya pilihan selain mengikuti imperatif teknologisnya: beradaptasi atau tersingkir. Dalam dunia kerja, ini berarti kita tidak lagi bertanya “apakah pekerjaan ini bermakna?”, melainkan “bagaimana cara paling efisien menyelesaikannya?” Pertanyaan “mengapa” telah digantikan oleh “bagaimana”—sebuah pembalikan sarana dan tujuan yang diidentifikasi Ellul sebagai tragedi peradaban modern.
Inilah keterasingan yang dimaksud. Karl Marx berbicara tentang alienasi pekerja dari produk kerjanya. Ellul melangkah lebih jauh: manusia terasing bukan hanya dari produk, melainkan dari dirinya sendiri, dari sesamanya, dan dari makna eksistensialnya. Manusia terintegrasi ke dalam mesin—bukan secara fisik seperti robot, tetapi secara psikis dan spiritual. Kita menjadi komponen dalam sistem besar yang tidak kita pahami dan tidak bisa kita kendalikan.
Di tahun 2026, keterasingan ini mencapai bentuknya yang paling halus dan paling berbahaya. Para pekerja remote yang duduk sendirian di kamar apartemen, berinteraksi dengan kolega hanya melalui layar, dipantau oleh surveillance software yang menghitung setiap detik “produktivitas”—merekahkah mereka manusia yang bekerja, atau sekadar antarmuka biologis bagi sistem digital? Para pengemudi ojek online yang tidak pernah bertemu bosnya, hanya dikendalikan oleh notifikasi dan insentif algoritmik—adakah mereka mitra kerja merdeka, atau budak dari tuan yang tak kasat mata?
Mitos Kemajuan yang Memperbudak
Ellul juga mengungkap bagaimana masyarakat teknologi menciptakan mitos-mitos baru untuk mensakralkan sistem yang menindas. Mitos kemajuan, mitos pertumbuhan tanpa henti, mitos efisiensi. Setiap tanggal 1 Mei, kita mendengar pidato-pidato tentang “peningkatan produktivitas nasional”, “daya saing global”, “revolusi industri 5.0”. Semua dibungkus dengan narasi optimisme yang memabukkan. Tapi jangan tertipu. Di balik kata-kata indah ini, tersembunyi logika La Technique yang memaksa manusia untuk terus berlari tanpa pernah bertanya ke mana dan untuk apa.
Kepada para buruh dan pekerja Indonesia di tahun 2026, dengarkan ini: Kalian sedang dijadikan berhala bagi mitos efisiensi. Setiap kali kalian menerima bahwa “begitulah cara dunia bekerja”, setiap kali kalian menelan bulat-bulat bahwa teknologi harus diadopsi tanpa reserve, setiap kali kalian merasa bersalah karena “kurang produktif”—saat itulah kalian sedang berlutut di hadapan altar La Technique.
Pesan Untuk 2026: Jangan Mati Sebelum Mati
Ellul adalah seorang Kristen yang taat, dipengaruhi oleh Karl Marx dalam analisis alienasi, oleh Søren Kierkegaard dalam menekankan keaslian individu, dan oleh Karl Barth dalam kritik profetis terhadap seluruh sistem manusia. Dari sintesis ini, ia memberikan bukan sekadar diagnosis, melainkan panggilan untuk melawan. Melawan di sini bukan berarti menghancurkan teknologi—itu naif dan mustahil—melainkan merebut kembali kendali eksistensial kita sebagai manusia.
Pada Hari Buruh Internasional 2026, di tengah gegap gempita kecerdasan buatan yang menggantikan pekerjaan manusia, di tengah normalisasi gig economy yang mengaburkan batas antara kerja dan hidup, saya menyampaikan pesan tegas ini:
Pertama, tolak logika efisiensi absolut. Kalian bukan mesin. Kelelahan, kesedihan, kebosanan, dan kebutuhan akan istirahat bukanlah “cacat sistem” yang harus dioptimasi. Itu adalah tanda bahwa kalian manusia. Jangan biarkan La Technique meyakinkan kalian bahwa nilai kalian ditentukan oleh seberapa cepat dan seberapa banyak kalian menghasilkan.
Kedua, beranilah bertanya “untuk apa”. Ketika perusahaan kalian mengadopsi teknologi baru, jangan hanya bertanya “bagaimana cara menggunakannya?” Tanyakan: “Untuk apa ini? Apakah ini membuat hidup kami lebih bermartabat atau malah membuat kami semakin tidak dibutuhkan? Apakah ini membebaskan kami untuk menjadi lebih manusiawi, atau justru mengurung kami dalam penjara metrik digital?”
Ketiga, ingatlah bahwa perubahan dimulai dari penolakan. Ellul pesimistis terhadap revolusi besar-besaran, tapi ia percaya pada kekuatan individu yang sadar dan menolak untuk tunduk sepenuhnya. Setiap kali kalian mematikan notifikasi pekerjaan di hari libur, setiap kali kalian memilih percakapan tatap muka daripada Zoom meeting yang tidak perlu, setiap kali kalian berkata “ini tidak masuk akal” terhadap tuntutan yang mendahulukan sistem di atas manusia—saat itulah kalian sedang melakukan revolusi kecil yang bermakna.
Penutup: Kenangan dan Kebangkitan
Saya menulis ini dengan kesadaran bahwa tulisan saya tahun 2004 belum cukup. Belum cukup keras. Belum cukup menusuk. Dunia kerja di tahun 2026 membutuhkan lebih dari sekadar refleksi akademis. Ia membutuhkan teriakan profetis yang membangunkan dari tidur dogmatis.
Kepada Pdt. Martin Supit yang dulu mengajarkan saya membaca Ellul bukan hanya dengan kepala tapi dengan hati; kepada J. Innocencio Menezes yang menyediakan peta intelektual untuk menjelajahi pemikiran ini; dan kepada para wisudawan UKIT 2004 yang menjadi pembaca pertama kritik saya—dua puluh dua tahun telah berlalu, dan kita masih berjuang dalam perang yang sama.
Kepada para buruh, pekerja, dan seluruh angkatan kerja Indonesia di 1 Mei 2026: Jangan biarkan pekerjaan mencuri kemanusiaan kalian. Mesin boleh semakin pintar, algoritma boleh semakin mengatur, sistem boleh semakin mencengkeram—tapi selama kalian masih bisa berhenti sejenak, memandang langit, dan bertanya “apakah aku masih manusia?”, selama itu pula harapan belum mati.
Keterasingan adalah pilihan yang dipaksakan oleh sistem. Melawannya adalah keputusan yang hanya bisa diambil oleh individu yang sadar. Hari ini, pilihlah untuk sadar. Pilihlah untuk melawan. Pilihlah untuk menjadi manusia sepenuhnya.
#Selamat Hari Buruh. Bangkit dan hiduplah, karena kalian bukan mesin.





