(Refleksi Film Dokumenter Investigasi Pesta Babi)
Oleh : Pdt. Andre Serhalawan
Bertempat di gedung Susteran Marantha Waena, malam ini terasa panas menikam. Tapi panas ini membakar semangat yang menyala dihadapan layar putih yang dipasang di ruangan aula itu. Kami bersama puluhan pasang mata lainnya, duduk terpaku. Bukan hanya menonton, kami sedang menyaksikan pengakuan dosa dari sebuah bangsa. Sebuah pengakuan yang tidak pernah diucapkan, tetapi terekam jelas dalam setiap bingkai film dokumenter investigatif berjudul “Pesta Babi” (Pig Feast).
Mahakarya ini adalah kolaborasi Jubi Media, Watchdoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat dan Greenpeace Indonesia. Ini bukan sekadar tontonan, ini adalah tamparan keras bagi kita yang selama ini mungkin tidur nyenyak (sleeping beauty) dalam dekapan narasi pembangunan semu. Disutradarai Dandhy Laksono dan Cypri Dale, film ini membawa kita ke belahan Papua Selatan, tanah Anim-Ha yang dihuni oleh orang-orang Marind, Yei, Awyu, dan Muyu. Mereka adalah pemilik sah dari hutan sagu, rawa, dan tanah leluhur yang kini diincar untuk proyek biodiesel sawit dan bioetanol tebu bahan bakar untuk kendaraan di tanah Jawa.
Teliti dan tanpa kompromi, kamera mengikuti jalinan kuasa yang rumit: politikus di Jakarta dan para investor mengeruk untung, aparat keamanan hadir dengan pendekatan represif, bahkan gereja yang harusnya menjadi benteng kini tampil dalam potret yang ambigu. Di sinilah letak ironi paling menyayat. Di antara para aktor yang disebutkan, ada “Salib Merah”.
Ah, ini bukan organisasi kemanusiaan, melainkan simbol simbol aksi protes non-kekerasan dan larangan adat (sasi) yang ditancapkan oleh masyarakat adat Malind dengan tujuan sebagai bentuk perlawanan terhadap perampasan ruang hidup, hutan, dusun adat, serta memprotes kerusakan lingkungan.
Selesai pemutaran dokumenter investigasi, maka ruangan berubah menjadi gelanggang pernyataan sikap dari tiga penanggap yakni Sdr. Stenly Dambujay bicara dengan getir. Ia menceritakan nasib anak-anak muda di selatan yang hanya ingin bicara tentang tanah leluhurnya, tetapi harus berakhir dengan ditangkap dan diintimidasi bahkan tak tanggung-tanggung ia mengalami pengucilan dari pimpinan gerejanya! Upaya pembungkaman suara mereka dengan berbagai pasal-pasal karet, diberangus oleh aparatus negara yang seharusnya melindungi mereka. Setiap kata-kata Stenly bagaikan palu yang menghancurkan ilusi kita tentang demokrasi di negeri ini.
Lalu, Ibu Ester Haluk memberikan perspektif yang tajam bagai silet. Ia secara lantang menohok gereja. “Gereja lemah dengan teologinya, Gereja sibuk dengan urusan surga, sementara umatnya menderita di bumi karena ulah korporasi dan negara”. Teologi profetik tergantikan dengan teologi sempit yang membuat gereja alergi terhadap politik lingkungan. Mereka membangun mimbar, tetapi lalai membela umat yang tanahnya dirampas. Di sisi lain, ada aparat keamanan yang dengan mudah membungkus operasinya dengan dalih melawan separatisme, padahal akar masalahnya adalah eksploitasi sumber daya. Ini adalah kolonialisme modern yang tak perlu menunggu jadi sejarah, karena sedang berlangsung di depan mata kita saat ini.
Puncaknya, Dr. Hanro Lekito, sebagai seorang akademisi memberikan diagnosa yang keras namun jujur: “Negara gagal total memahami budaya dan manusia Papua”! Semua program pembangunan yang digaungkan bukan untuk mensejahterakan orang asli. Pelaksanaan Proyek Sinting Nasional (PSN) justru melahirkan tiga tragedi kemanusiaan: Ecosida : pembunuhan sistematis terhadap alam. Kultursida : pemusnahan budaya dan relasi manusia dengan alamnya; dan Krisis Identitas. Akibatnya, masyarakat asli di Papua Selatan terperangkap dalam situasi 3T: Terintimidasi, Tercabut dari akar budayanya, dan Terkriminalisasi. Mereka dipaksa menjadi penonton di rumah mereka sendiri, sementara para oligarki dan pengusaha berpesta pora di atas penderitaan mereka.
Di tengah haru-nya narasi dan sikap, audiens menangis. Air mata itu bukan karena lembek, melainkan karena solidaritas yang paling dalam. Kesedihan itu kemudian berubah menjadi siaga saat Mama Yasinta angkat bicara. Suaranya lirih, tapi isinya adalah api yang tak terpadamkan. “Perempuan Papua jangan takut bersuara! Kalau hutan kita hilang, anak-anak akan kelaparan. Dan kalau anak-anak minta makan, yang mereka cari pasti mama!” kata-kata yang membakar semangat. Setiap Kalimat Mama Yasinta adalah deklarasi perang terhadap ketakutan. Ia mengingatkan bahwa perjuangan mempertahankan hutan adalah perjuangan untuk mempertahankan dapur, masa depan anak, dan harga diri sebagai perempuan adat! Jangan takut, walau intimidasi datang silih berganti! Perempuan Papua harus tangguh dan kuat tutupnya.
Simon Petrus Balagaise, Ketua Ikatan Masyarakat Adat Malind Digul–Kondo menceritakan pengalaman pahitnya: pengejaran, ancaman, upaya kriminalisasi. Semua ia alami hanya karena satu hal: mempertahankan hak tanah masyarakat adat. Ia bukan penjahat, ia adalah penjaga gerbang kehidupan sukunya. Ia meninggalkan gemerlapnya Eropa untuk membela rakyatnya di tanah Anim-Ha.
Ingatlah!!!! Stanly, Ibu Ester, Pak Hanro, Mama Yasinta, dan Pak Simon adalah pahlawan kemanusiaan sejati. Mereka bukan pahlawan dengan bintang jasa, tapi dengan luka dan keteguhan hati. Narasi pemerintah yang gemar mengumbar kata “membangun” dan “mensejahterakan” sama sekali tidak mereka terima, karena yang mereka lihat adalah tanah dan kekayaan ekosistem digusur, lalu digantikan dengan tanaman “asing” yang hanya menguntungkan segelintir orang.
Malam ini di Susteran Marantha, saya belajar bahwa Pesta Babi (Pig Feast) yang sebenarnya bukanlah ritual adat mereka. Pesta Babi yang sesungguhnya adalah pesta pora para penguasa dan pemodal yang memangsa tanah orang lain. Tapi di tengah pesta durjana itu, para pejuang tanah adat tetap berdiri. Mereka adalah suara dari tanah yang berdarah. Dan selama tanah itu masih bisa mereka pijak, selama sagu masih tumbuh di rawa, mereka akan terus bersuara. Tidak peduli seberapa kuat intimidasi, mereka akan mempertahankan apa yang menjadi milik mereka bahkan sampai titik darah penghabisan.
Film yang bernas! Apabila bingung, tanyakan pada rumput di Waena! Salam.
NB : Film Pesta Babi (Pig Feast) baru akan dirilis pada bulan April. So selamat menunggu ya.





