Oleh :
Esther Telaumbanua
Di tengah persidangan SMSA – GPI 2025 kemaren, ada oleh-oleh yang menarik perhatian peserta terutama kaum perempuan. Bawang goreng! Bawang goreng memang akrab di lidah kaum perempuan dan disukai mayoritas masyarakat Indonesia. Hampir semua masakan nusantara menggunakan bawang sebagai bumbu dan penyedap.
Ibu Ketua Sinode GPI Buol Toli-Toli (GPIBT) memang sengaja membawanya dari sana untuk diperkenalkan. Spontan kami membeli bawang goreng yang ‘krenyes-krenyes’ (garing), harum dan gurih itu. Produk bawang goreng kenari ini, begitu namanya, hasil karya kelompok suku Lauje. Belum selesai sessie study meeting a la world cafè, 80 pax seharga Rp.35.000-_ langsung habis seketika. Bukan saja rasa yang enak, dengan penyajian menarik dalam kemasan, ternyata sarat kisah dibaliknya.
Produsennya adalah komunitas suku Lauje yang berhimpun dalam kelompok Sumber Rejeki di Anggasan- Dondo atas kerjasama Sinode GPIBT dengan Wahana Visi Indonesia.
Ibu Ketsi Pdt. Charlotta Sambouw menjelaskan bahwa ada resep dan cara tersendiri untuk memproses bawang goreng ini. Bahan utamanya adalah bawang asli endemik Sulawesi Tengah. Berbeda dengan produksi di wilayah lain, disini yang digunakan jenis bawang berukuran kecil dan panjang. Bawang digoreng dengan minyak kelapa kampung yang diolah dengan bonggol nenas. Karena itu, produk bawang goreng yang dihasilkan bukan saja gurih, harum, garing dan awet. Walaupun tanpa bahan pengawet, tetap kering dan tahan lama. Saat ini mereka berjuang untuk mewujudkan ragam kreatifitas berbahan bawang, seperti keripik bawang, minyak bawang dan lain-lain. Kemampuan teknologi pangan dan jaring pemasaran diperlukan agar produk ini tampil berkualitas dan bernilai ekonomi.
Suku Lauje (Tope Lauje) adalah masyarakat asli terpencil di Sulawesi Tengah, yang dapat ditemui di daerah pedalaman Moutong, Donggala dan Toli-toli, Poso, Banggai di Sulawesi Tengah. Mayoritas suku Lauje masih penganut sistem kepercayaan (religi) dan tradisi lokal dalam kehidupannya. Suku Lauje menggunakan bahasa lokal suku Lauje dan mengenal tradisi lisan. Dalam bahasa Lauje, kata Lauje berarti ‘tidak’. Mungkin ini menggambarkan pola hidup yang selalu bermigrasi dan tidak berkelompok. Mereka hidup di pedalaman, tinggal di rumah-rumah kayu dan jauh dari kehidupan modern. Mereka umumnya bertani, beternak dan semi nomaden. Mereka juga menanam tanaman pangan, dan bawang. Kualitas tidak kalah dengan bawang Brebes. Suku Lauje, akrab dengan alam, dan memiliki ragam kreatifitas berbasis kearifan lokal. Diantaranya, menganyam.
Suku Lauje dikenal dengan Lauje Dalam (pegunungan) dan Lauje Luar (pesisir). Komunitas Lauje, yang semi nomaden itu, mendiami wilayah pegunungan dan pesisir khususnya Kec. Dondo, Tolitoli yang menjadi jemaat pelayanan Sinode GPIBT Mupel VI. Saat ini ada 1.737 jiwa warga suku Lauje dilayani di mupel tersebut. GPIBT adalah salah satu dari 12 Sinode Gereja Bagian Mandiri GPI. Pelayanan misi, kemanusiaan dan gerejawi, untuk masyarakat Lauje telah dirintis sejak lama bersama gereja-gereja SAG Suluteng seperti GMIM, GMIST, GPID.
Hal ini selaras dengan fokus percakapan di dalam kelompok study meeting SMSA 2025 terutama terkait zona praxis koinonia yang inklusif dan diakonia transformatif, wujud dari panggilan ekklesiologi GPI sebagai persekutuan yang menjadi berkat dan mendatangkan damai sejahtera bagi sesama. Oleh-oleh ini menjadi lonceng panggilan melayani secara kolaboratif untuk bertumbuh bersama dalam kesetaraan. Bahwa sesungguhnya luaslah lahan-lahan harapan untuk ditanami dan dituai bersama-sama.
Bawang goreng produksi suku Lauje, bukan saja buah tangan, tapi buah karya misi. Di kemasan produk Bawang Goreng ada tertulis “Diproduksi untuk mendorong peningkatan ekonomi suku Lauje”. Makanya cita rasanya beda, ada tetesan cinta kasih didalamnya.








