“HUTAN SEBAGAI MAMA” Pendeta Perempuan Papua merespons dan merefleksikan Pikiran Pokok Sidang MPL PGI 2026

Oleh : Pdt. Elvina Iha, S.Th.,MM
(Pendeta Gereja Protestan Indonesia di Papua)

Saya berdiri di sini bukan hanya sebagai seorang pendeta. Saya adalah anak perempuan dari Bumi Papua, yang menyapa tanahnya sebagai MAMA. Suara ini lahir dari rahim yang sama yang melahirkan sungai, menyusui hutan, dan menenun kehidupan. Saat Mama menjerit kesakitan, darahnya adalah lumpur gambut yang dikeringkan, air matanya adalah banjir yang menyapu desa, dan rontokan dagingnya adalah jutaan hektar hutan yang musnah. MPL PGI 2026 di Merauke bukan agenda rutin sinodal. Ini adalah panggilan darurat dari Mama yang sekarat, sebuah ujian iman yang menuntut jawaban bukan dari bibir, tapi dari seluruh keberadaan kita sebagai gereja.

Kami, perempuan Papua, memahami “keutuhan ciptaan” bukan sebagai konsep teologi yang abstrak. Kami merasakannya di ujung jari saat memetik daun, di dengung lebah yang menyerbuk bunga, dan di kesejukan akar-akar besar yang menjadi tempat bercerita. Menyakiti bumi adalah menyakiti ibu sendiri. Oleh karena itu, refleksi ini adalah lebih dari sekadar respons; ini adalah seruan jiwa, jeritan profetik, dan peta jalan perlawanan yang berani. Jika sidang ini hanya menghasilkan dokumen tanpa taji, maka kita telah mengkhianati Mama dan mengabaikan tangisan Roh (Roma 8:22). Mari kita berhenti berteori dan mulai bertindak.

Momentum MPL 2026: Menjawab Darurat Ekologis dengan Iman yang Bertindak. Majelis Pekerja Lengkap (MPL) PGI 2026 di Merauke bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan ujian iman di episentrum krisis. Tema “Keutuhan Ciptaan dalam Karya Penyelamatan Allah” akan menjadi hipokrisi jika tidak direspons dengan tindakan profetis yang konkret. Iman Kristen menegaskan bahwa keselamatan bersifat holistik (Roma 8:19-23), namun praktik gereja dan model pembangunan nasional justru memisahkan jiwa dari tubuh, dan manusia dari alam. Gereja dipanggil untuk menjadi mitra Allah (theopoiesis) yang berani menolak teologi antroposentris dan beralih ke ortopraksis ekologis —iman yang terwujud dalam pembelaan nyata terhadap “tubuh bersama” ciptaan yang terluka.

Realitas Indonesia: Bencana Ekologis sebagai Buah Kegagalan Paradigma. Data berbicara keras: Indonesia kehilangan 4,14 juta hektar hutan primer dalam dua dekade, dengan lebih dari 98% bencana bersifat hidrometeorologis. Ini bukan “musibah”, melainkan konsekuensi logis dari model pembangunan ekstraktif yang mengorbankan gambut, hutan, dan laut demi proyek mercusuar. Deforestasi untuk Food Estate dan ekspansi tambang nikel untuk era digital adalah dua sisi mata uang yang sama: ekonomi yang menghancurkan ekologi. Gereja harus menyatakan ini sebagai dosa struktural—pengkhianatan terhadap mandat “mengusahakan dan memelihara” (Kej. 2:15) yang telah direduksi menjadi “menguasai tanpa batas”.

Merauke: Ujian Nyata di Bumi Mama Papua. Lokasi MPL 2026 di Merauke adalah providensi ilahi yang tak terbantahkan. Di sini, proyek Food Estate sebagai PSN akan mengubah ekosistem gambut dan savana, mengancam keanekaragaman hayati Trans-Fly, dan mengganggu tata air masyarakat lokal. Bagi Papua, bumi adalah “mama”—sumber identitas dan kehidupan. Oleh karena itu, proyek ini bukan hanya salah secara ekologis, tetapi merupakan violensi kultural dan spiritual. GPI Papua, sebagai gereja lokal, berada di garis depan pergumulan ini. Dukungan sinodal dari PGI tidak boleh berupa pernyataan empati, melainkan advokasi struktural dan pendampingan hukum yang nyata.

Gereja Domestik sebagai Kekuatan Mikro yang Revolusioner. Di tengah megaproyek yang merusak, gereja harus membangun kekuatan tandingan dari akar rumput: Ecclesia Domestika. Setiap keluarga Kristen dipanggil menjadi “mikro-ekosistem kasih” dengan tindakan sederhana namun radikal: memilih pangan lokal, menciptakan kebun keluarga (urban farming), mendidik anak mencintai alam, dan mengurangi jejak digital. Tindakan domestik ini adalah bentuk resistensi pasif terhadap sistem pangan industri dan logika konsumsi yang merusak. PGI harus meluncurkan kampanye nasional “Keluarga Penjaga Bumi” dengan modul konkret, mengubah meja makan menjadi ruang pembelajaran ekoteologi.

“Bank Benih dan Kebun Bibit” Umat/Jemaat sebagai Kedaulatan Pangan. Daripada hanya mengkritik Food Estate yang sentralistis dan monokultur, gereja harus mendorong model kedaulatan pangan berbasis komunitas. Setiap gereja lokal, khususnya di Papua, didorong mendirikan Bank Benih Lokal dan Kebun Bibit Multiguna. Ini bukan sekadar proyek lingkungan, melainkan aksi teologis memulihkan hubungan dengan benih sebagai anugerah ilahi, bukan komoditas korporasi. Kemandirian benih adalah fondasi kemandirian pangan dan perlawanan terhadap ketergantungan.

Membangun Jaringan “Gereja Suaka Ekologis”. PGI harus mendeklarasikan jaringan gereja-gereja yang berfungsi sebagai “suaka ekologis”. Gereja-gereja di daerah rentan (pesisir, pinggir hutan, daerah aliran sungai) dipersiapkan sebagai posko siaga ekologis, tempat pemulihan korban bencana, pusat dokumentasi pelanggaran lingkungan, dan ruang pendidikan ekologi. Konsep ini mengintegrasikan diakonia, advokasi, dan pendidikan dalam satu model pelayanan yang responsif.

Memimpin Transisi Digital yang Berkeadilan dan Rendah Karbon. Merespons beban ekologis era digital, PGI harus menggagas “Piagam Etika Digital Hijau” untuk gereja. Isinya mencakup komitmen menggunakan server hemat energi, mengurangi jejak karbon dalam kegiatan digital, serta memanfaatkan teknologi (AI, satellite monitoring) untuk memantau deforestasi dan mendukung kampanye lingkungan, bukan hanya untuk administrasi gereja. Gereja harus kritis terhadap narasi “smart city” dan “transformasi digital” yang mengabaikan keadilan ekologis.
Dari Sinode ke Aksi: Rekomendasi Kebijakan Konkret untuk MPL 2026. MPL 2026 harus menghasilkan keputusan yang tegas:
• Mendeklarasikan “Dosa Ekologis” sebagai kategori dosa struktural yang harus diakui dan dipertobatkan.
• Menerbitkan Surat Gembala Khusus tentang Keutuhan Ciptaan yang menolak proyek-proyek ekstraktif yang tidak adil, termasuk program yang mengabaikan hak masyarakat adat.
• Membentuk Satuan Tugas Ekologi PGI yang memiliki mandat advokasi hingga tingkat nasional dan internasional.
• Menetapkan “Hari Minggu Keutuhan Ciptaan” dalam kalibar gerejawi dengan pengumpulan dana khusus untuk aksi ekologi.

Penutup: Merauke sebagai Titik Balik. Jika MPL 2026 menghasilkan resolusi biasa-biasa saja, maka gereja telah gagal membaca tanda zaman dan meninggalkan umatnya di garis depan seperti di Merauke untuk berjuang sendirian. Sebaliknya, jika MPL 2026 berani mengadopsi beberapa solusi ini, maka Merauke akan dikenang bukan hanya sebagai tempat sidang, melainkan sebagai titik tolak gerakan ekoteologi transformatif di Indonesia. Dari Bumi Mama yang terluka, gereja bangkit untuk memulihkan keutuhan ciptaan, dimulai dari rumah, diperkuat oleh komunitas, dan diperjuangkan hingga ke tingkat kebijakan. Inilah panggilan sejati menjadi mitra Allah dalam karya penyelamatan yang menyeluruh.

  • Related Posts

    Environmental Defender Vincent Kwipalo Files Criminal Complaint Against PT Murni Nusantaran Mandiri at National Police Headquarters (Mabes Polri)

    Since 2024, an environmental defender and leader of the Kwipalo clan, Vincent Kwipalo, from Blandin Kakayo Village, Jagebob District, Merauke Regency, has opposed the operation of the sugarcane plantation company…

    Read more

    An Unforgettable Tour Through Culture, Adventure, and New Horizons

    This simple yet profound quote reminds us that no one starts out as a master. Even the most celebrated artists, musicians, writers, and creators were once beginners — unsure of…

    Read more

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    You Missed

    Siapa sih yang untung dari proyek padi ini?

    • By Admin
    • April 16, 2026
    • 6 views
    Siapa sih yang untung dari proyek padi ini?

    Susteran Marantha Bersaksi: Air Mata untuk Tanah yang Sekarat

    • By Admin
    • March 6, 2026
    • 69 views
    Susteran Marantha Bersaksi: Air Mata untuk Tanah yang Sekarat
    • By Admin
    • March 1, 2026
    • 32 views

    Bisnis Adalah Perampokan dan Perlawanan Adalah Kejahatan: Sebuah Drama Twain di Ujung Timur Indonesia

    • By Admin
    • February 22, 2026
    • 15 views
    Bisnis Adalah Perampokan dan Perlawanan Adalah Kejahatan: Sebuah Drama Twain di Ujung Timur Indonesia

    Cermin Kata: Refleksi Karakter Manusia di Balik Objektivitas Tulisan

    • By Admin
    • February 17, 2026
    • 20 views
    Cermin Kata: Refleksi Karakter Manusia di Balik Objektivitas Tulisan

    MEMBANGGAKAN FOOD ESTATE, MENGHANGUSKAN LUMBUNG PANGAN LOKAL: SEBUAH NARASI KRITIS UNTUK MEMPERTEGAS POSISI PGI TERKAIT DENGAN PENOLAK PSN FOOD ESTATE DI MERAUKE PAPUA SELATAN

    • By Admin
    • February 16, 2026
    • 35 views
    MEMBANGGAKAN FOOD ESTATE, MENGHANGUSKAN LUMBUNG PANGAN LOKAL: SEBUAH NARASI KRITIS UNTUK MEMPERTEGAS POSISI PGI TERKAIT DENGAN PENOLAK PSN FOOD ESTATE DI MERAUKE PAPUA SELATAN