MERAUKE, SION YANG TERBELAH

(Sebuah Refleksi Ecclesia Domestica & Keutuhan Ciptaan) Dalam Ibadah Sidang Majelis Pekerja Lengkap (MPL) Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Pagi 2 Februari 2026.

A. Dampak Sosial-Ekonomi

“Kalian bicara tentang investasi. Tentang pertumbuhan ekonomi. Biar saya yang bicara tentang harga yang kami bayar.

Dulu, hutan adalah pasar dan mall kami. Sungai adalah bank kami. Di sana, ada semua yang kami butuhkan: sagu untuk makan, obat-obatan dari akar dan daun, protein dari ikan dan hewan buruan. Tidak ada yang namanya ‘pengangguran’, karena setiap orang punya peran dalam merawat dan mengambil dari alam itu.

Lalu datanglah mesin-mesin besar. Mereka datang membawa janji kemajuan. Janji lapangan kerja. Apa yang terjadi?

Kami tidak jadi kuli di tanah sendiri. Kami jadi penonton! Mereka datangkan tenaga dari luar, dengan keterampilan yang asing bagi kami. Kami yang tadinya ahli membaca hutan, jadi tidak berguna. Harga kebutuhan melambung, karena kami harus beli semuanya sekarang: beras, sayur, minyak. Sagu kami sudah tidak ada. Ikan di sungai sudah keracunan.

Pemuda-pemuda kami yang putus asa, terpaksa jual tanah warisan leluhur dengan harga murah. Atau mereka pergi merantau, menjadi orang asing di kota-kota besar, terputus dari akar dan identitas. Yang tertinggal adalah orang tua yang meratapi kuburan nenek moyang yang sudah diuruk tanah timbunan.

Ini bukan kemiskinan yang bisa diukur dengan uang. Ini adalah kemiskinan jiwa. Kami kehilangan martabat sebagai penjaga. Kehilangan otonomi sebagai manusia merdeka. Yang tersisa adalah ketergantungan dan kepahitan. Kerusakan alam ini bukan hanya meracuni sungai, tapi juga meracuni masa depan anak-cucu kami. Mereka warisi tanah yang tandus dan warisan budaya yang patah. Ini adalah krisis eksistensi. Kami bertanya: siapa kami sekarang, setelah hutan yang mendefinisikan kami hilang?”

B. Lanskap Kerusakan Ekologis

“Biarkan bumi yang bicara melalui saya. Dengarkan keluhannya.
Pergilah ke tempat rawa sagu yang dulu hijau lebat. Sekarang, yang kau dengar bukan lagi gemerisik daun, tetapi deru mesin penyedot air yang tak kenal lelah. Yang kau lihat bukan lagi kanopi rimbun, tetapi langit kosong yang menyengat. Tanah gambut yang dulu basah, menyimpan air dan kehidupan, kini kering kerontang dan rentan terbakar. Asapnya membakar mata dan paru-paru kami.

Pergilah ke sungai-sungai. Airnya yang dulu jernih kecoklatan, tempat anak-anak kami mandi dan perempuan kami mencuci, sekarang berwarna hitam pekat atau keruh kuning. Limbah dan sedimentasi telah membunuhnya. Tidak ada lagi ikan yang melompat. Hanya plastik dan buih-buih busuk yang mengambang. Sungai bukan lagi urat nadi kehidupan; ia menjadi parit kematian.

Lihatlah satwa-satwa kami. Burung Cenderawasih, mambruk yang anggun, kehilangan rumah dan tempat ia memanggil pasangannya. Kanguru yang lugu, bingung melompat di antara tunggul-tunggul kayu. Suara hutan yang dulu adalah simfoni yang kompleks kicauan burung, desau angin, lengkingan kunang-kunang kini berganti menjadi monoton: dengung mesin, dentuman, dan kemudian… sunyi. Sunyi yang menakutkan.

Setiap hektar yang dibuka, setiap pohon yang dirobohkan, adalah luka yang menganga di tubuh Papua. Luka ini berdarah, dan yang keluar bukan getah, tetapi masa depan yang menguap. Kami menyaksikan pemakaman besar-besaran atas sebuah dunia. Dan kami dipaksa untuk menghadiri upacara kematian itu setiap hari.”

C. Kearifan Lokal – Nilai Intrinsik Alam

“Dengarlah hukum yang tidak tertulis, tetapi terpatri di dalam darah dan ingatan kolektif kami.
Bagi kalian, sebuah pohon besi mungkin hanya bernilai sekian ribu rupiah per meter kubik. Bagi kami, ia adalah pohon suci. Ia adalah individu, makhluk hidup yang memiliki roh, sejarah, dan tempatnya dalam kosmos. Kami memohon izin sebelum menebangnya. Kami punya ritus untuk menenangkan rohnya setelah ia tumbang. Karena kami tahu, kami tidak mengambil kayu. Kami memindahkan seorang penjaga hutan.

Setiap anak sungai memiliki namanya sendiri. Sejengkal tanah dan bukit memiliki ceritanya sendiri. Alam bukanlah benda mati atau komoditas. Alam adalah komunitas yang hidup, di mana manusia hanyalah satu anggota di dalamnya. Nilai gunung tidak terletak pada mineral di dalam perutnya, tetapi pada kemampuannya menahan awan, memberi sumber air, dan menjadi tonggak sakral yang menghubungkan kami dengan dunia leluhur kami.

Kearifan kami mengajarkan: alam memiliki hak untuk ada, untuk tumbuh, dan untuk beregenerasi. Hak itu intrinsik, diberikan langsung oleh Sang Pencipta, bukan oleh manusia. Kami manusia, justru memiliki kewajiban untuk menjamin hak-hak itu. Ketika kalian menyayat hutan tanpa ritus, membelokkan sungai tanpa permisi, itu bukan hanya kerusakan ekologis. Itu adalah pelanggaran hukum adat yang paling mendasar. Itu adalah pengkhianatan terhadap perjanjian suci antara manusia dan sesama ciptaan. Kalian melihat sumber daya yang bisa dikonversi. Kami melihat saudara-saudara yang dibunuh.”

D. Kearifan Lokal – Harmoni Segitiga Suci

“Ibadah kami tidak dimulai di gereja dan berakhir di pintu gereja. Ibadah kami dimulai dari mata terbuka di pagi hari, menyaksikan kabut di atas hutan, dan berakhir dengan tidur di bawah gemerlap bintang.

Hubungan kami dengan Allah tidak langsung. Ia dimediasi melalui keindahan dan kemurahan ciptaan-Nya. Ketika kami memetik buah dari hutan, itu adalah sakramen. Ketika kami menangkap ikan dengan cara yang tidak serakah, itu adalah ekaristi. Kehidupan sehari-hari adalah liturgi yang panjang, di mana setiap tindakan terhadap alam adalah doa, dan setiap tanggapan alam adalah berkat.

Harmoni itu seperti anyaman. Allah adalah pondasinya. Alam adalah bilah-bilah rotan yang kuat dan lentur. Manusia adalah tangan yang menganyam, menghubungkan, merawat. Jika satu bilah patah, seluruh anyaman melemah. Jika tangan menganyam dengan serakah dan kasar, anyaman itu akan rusak, tidak bisa menampung berkat apa pun.

Sekarang, anyaman itu tercabik-cabik. Kami diajari untuk mencintai Allah, tetapi diajari pula untuk mengeksploitasi ciptaan-Nya. Itu adalah teologi yang patah. Bagaimana mungkin kami mengaku mencintai Pelukis, sambil merusak lukisan-Nya? Bagaimana mungkin kami menyanyikan pujian atas kasih-Nya, sambil membunuh sistem kehidupan yang Ia titipkan?

Kesedihan kami yang paling dalam adalah ini: kami merasa menjadi anak-anak yang kehilangan dua orang tua sekaligus. Kami merasa menjauh dari wajah Allah, karena ‘buku alam’ tempat kami membaca karakter-Nya, sedang dibakar di depan mata kami. Untuk memulihkan ibadah, kita harus memulihkan anyaman itu. Kembali menjadi tangan yang menganyam dengan lembut, hormat, dan penuh tanggung jawab. Hanya dengan demikian, ‘Haleluya’ dari mulut kita, tidak akan dibungkam oleh tangisan bumi di bawah kaki kita.”

Related Posts

Siapa sih yang untung dari proyek padi ini?

Oleh Wensi Fatubun TANGGAPAN Roy Sugianto, seorang imam Katolik Keuskupan Amboina yang sedang melayani di Keuskupan Agung Merauke, terhadap surat terbuka dari Solaiman Itlay, seorang intelektual muda asli Papua, pada…

Read more

Susteran Marantha Bersaksi: Air Mata untuk Tanah yang Sekarat

(Refleksi Film Dokumenter Investigasi Pesta Babi) Oleh : Pdt. Andre Serhalawan Bertempat di gedung Susteran Marantha Waena, malam ini terasa panas menikam. Tapi panas ini membakar semangat yang menyala dihadapan…

Read more

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You Missed

Siapa sih yang untung dari proyek padi ini?

  • By Admin
  • April 16, 2026
  • 6 views
Siapa sih yang untung dari proyek padi ini?

Susteran Marantha Bersaksi: Air Mata untuk Tanah yang Sekarat

  • By Admin
  • March 6, 2026
  • 69 views
Susteran Marantha Bersaksi: Air Mata untuk Tanah yang Sekarat
  • By Admin
  • March 1, 2026
  • 32 views

Bisnis Adalah Perampokan dan Perlawanan Adalah Kejahatan: Sebuah Drama Twain di Ujung Timur Indonesia

  • By Admin
  • February 22, 2026
  • 15 views
Bisnis Adalah Perampokan dan Perlawanan Adalah Kejahatan: Sebuah Drama Twain di Ujung Timur Indonesia

Cermin Kata: Refleksi Karakter Manusia di Balik Objektivitas Tulisan

  • By Admin
  • February 17, 2026
  • 20 views
Cermin Kata: Refleksi Karakter Manusia di Balik Objektivitas Tulisan

MEMBANGGAKAN FOOD ESTATE, MENGHANGUSKAN LUMBUNG PANGAN LOKAL: SEBUAH NARASI KRITIS UNTUK MEMPERTEGAS POSISI PGI TERKAIT DENGAN PENOLAK PSN FOOD ESTATE DI MERAUKE PAPUA SELATAN

  • By Admin
  • February 16, 2026
  • 34 views
MEMBANGGAKAN FOOD ESTATE, MENGHANGUSKAN LUMBUNG PANGAN LOKAL: SEBUAH NARASI KRITIS UNTUK MEMPERTEGAS POSISI PGI TERKAIT DENGAN PENOLAK PSN FOOD ESTATE DI MERAUKE PAPUA SELATAN