Oleh : Pdt. Andre Serhalawan.

Biasanya pada setiap awal tahun, pasti salah satu rutinitas kelambagaan gereja adalah mengadakan RAKERJEM atau yang dulunya disebut Sidang Jemaat.

Hampir setiap tahun tujuan dan fungsi RaKerJem adalah dalam rangka melakukan evaluasi pelayanan dalam setahun yang sudah berjalan serta melakukan penyusunan program dan anggaran untuk tahun kerja yang akan dijalani (contohnya Januari – Desember 2026).

Dalam pengalaman saya, sebagian besar bahkan bisa dikatakan 99 % lembaga gereja kami hanya melakukan setting target pada program dan anggaran. Kadang, programnya pun adalah ‘warisan’ turun temurun yang sudah berlangsung selama 1 atau 2 dekade, tetapi terus menghiasi program-program strategis gereja. Tidak ada program baru yang ‘out of the box’, hampir semuanya ‘text book’ yang hanya dicopy-paste agar memenuhi kolom rancangan program.

Demikian halnya anggaran! Semuanya disusun secara presisi dan rapi bahkan sampai dengan jumlah sen. Target kenaikan 5 – 10 % dari pendapatan tahun sebelumnya dipasang untuk dikejar dalam tahun pelayanan dengan asumsi hal itu bisa menjadi Year-on-Year Growth (YoY), ataupun agar menjaga konsistensi kenaikan tetap maka disetting pula Compound Annual Growth Rate (CAGR) dengan asumsi 5-10% dapat dicapai sebab data indikator kenaikan secara stabil dalam 3-5 tahun terakhir.

Janganlah terkejut apabila rancangan program dan anggaran serta bahan evaluasi akan setebal Alkitab dan memakan waktu 8-12 jam untuk pembahasan yang dipenuhi dengan interupsi, keberatan dan berbagai pertanyaan yang menggelitik.

Jadi dapat dikatakan bahwa yang dipertaruhkan dalam RaKerJem itu hanyalah sebuah kewajiban organisatoris untuk mengukur sejauh mana pundi-pundi keuangan itu dapat terkumpul sesuai dengan setting target yang diputuskan.

Setelah memeriksa beberapa dokumen secara terperinci, saya tidak menemukan ada evaluasi program secara mendetail. Contohnya mengapa program di Bidang A tidak berjalan atau tidak dilaksanakan. Apa kendalanya atau tantangan yang menyebabkan kegiatan tersebut tak terselenggarakan? Penjelasan seperti itu tidak akan ditulis, dan argumentasi mereka adalah akan dibahas pada saat pembahasan Bidang A.

Kemudian pada sisi program pun, yang mereka targetkan hanya pada tataran Output. Program tidak disusun secara detail dengan memakai indikator-indikator tujuan, Outcome bahkan impact yang diharapkan dari setiap program. Apabila hal ini disusun, maka pasti akan sangat bersentuhan langsung dengan MANUSIANYA.

Nah, di sinilah maksud dan tujuan tulisan dan analisis kritis ini hendak saya sampaikan dan jabarkan. Ingat! Kita sibuk menyusun RAPBG (Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Gereja) yang tebal-tebal itu. Lalu, kitapun hitung dana pembangunan gedung miliaran rupiah. Selanjutnya, kita targetkan program kerja 12 bulan Secara full-time. Akhirnya, kita merasa bangga dengan laporan keuangan yang rapi dan transparan.

TETAPI Dimana Umat atau domba-domba milik kepunyaan TUHAN?
Lucu bukan!

Fokus kita hanya hitung uang, tapi kita tidak hitung kehadiran.
Targetkan kita hanya dana, tapi tidak mentargetkan jiwa.
Kita hanya evaluasi program, tapi kita cuek dan tidak peduli dengan kursi-kursi kosong!
Kita menjadikan gedung sebagai tujuan, bukan alat.
Kita menjadikan anggaran sebagai keberhasilan, bukan sarana.
Kita melupakan ukuran paling dasar dari gereja yang hidup: APAKAH JEMAAT HADIR?

Saya mengajak kita melihat dasar Alkitab untuk argumentasi kritis ini dalam Kisah Para Rasul 2:46-47 “Dengan bertekun dan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari di Bait Allah… sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Output mereka: Berkumpul TIAP HARI! Outcome mereka: Jiwa bertambah TIAP HARI! Gereja mula-mula tidak punya gedung megah, tapi punya kehadiran luar biasa.

Saya coba membedah realitas pahit program gereja kita ini dengan sebuah tools ‘SMART” (kerangka managemen yang saya pelajari). SMART program gereja saat ini sebagai berikut :
• Specific (Spesifik) : Bangun gedung 2 lantai di tahun depan.
• Measurable (Terukur) : Dana pembangunan terkumpul Rp 1 Miliar.
• Achievable (Tercapai) : Target dana bisa dicapai dengan jemaat kaya.
• Relevant (Relevan) : Relevan, biar gereja kelihatan maju.
• Time-bound (Batas Waktu) : Selesai 31 Desember tahun ini.

Kelihatannya bagus, tetapi ingat! Semua SMART itu untuk BENDA dan UANG. Bukan untuk MANUSIA.
Saya coba membaliknya dengan pertanyaan kritis untuk membedah program di atas?
• Specific (Spesifik) : Berapa banyak jiwa yang harus hadir tiap minggu? Apa target spesifiknya? “Yang penting banyak orang dan ramai?” Omong kosong. Tidak ada yang ramai tanpa target.
• Measurable (Terukur) : Kita ukur rupiah sampai ke sen. Tapi kehadiran? “Kira-kira 500an lah…” Whatttttt. Camkan! Itu bukan terukur, itu perkiraan pasar.
• Achievable (Tercapai) : 1 Miliar rupiah kita yakini tercapai karena jemaat mampu. Tapi target kehadiran? “Ah, susah, orang sibuk.” Hmmm…INI PENGHUJATAN! Kita lebih percaya jemaat mampu memberi uang besar daripada mampu hadir di dalam kebaktian gereja.
• Relevant (Relevan) : Relevankah program kerja jika jemaatnya hanya 10 orang? Program sehebat apa pun tanpa kehadiran hanya jadi monumen kesombongan.
• Time-bound (Batas Waktu) : 31 Desember dana harus terkumpul. Tapi kapan jiwa-jiwa akan terkumpul? Apakah jiwa-jiwa yang hilang punya batas waktu untuk diselamatkan?

Tentunya tidak fair juga apabila saya hanya memberikan catatan kritis dan kritikan verbal tanpa memberikan contoh kongkrit sebagai Solusi. Saya tetap akan menggunakan Tool SMART untuk membreakdown kehadiran umat (target), dengan mensetting kehadiran sebagai OUTPUT utamanya, dan pertumbuhan iman sebagai target utama OUTCOMEnya.
• S: “Meningkatkan jumlah kehadiran Ibadah Minggu pagi pukul 09.00 dan 17.00 dari rata-rata 750 jiwa per minggu menjadi 1000 jiwa per minggu dalam kurun waktu 1 tahun (Januari-Desember 2026).”
• M: Data kehadiran dihitung per minggu, direkap per bulan, dan dievaluasi per kuartal (3 bulanan).
• A: Tercapai dengan strategi penjangkauan dan peningkatan kualitas ibadah.
• R: Sangat relevan karena sesuai Amanat Agung (Matius 28:19-20) dan perintah saling menasihati (Ibrani 10:25).
• T: 52 minggu.

Setelah kita Menyusun SMART, selanjutnya memasukan target kehadiran dalam template Excel :
– Minggu I, II, III, IV
– Tanggal
– Pukul (Jam Ibadah)
– Kategori Ibadah
– Target Umat/Jiwa
– Realisasi Kehadiran berbasis jenjang (Anak, Dewasa, Lansia), berbasis gender (Pria & Wanita)
– Deviasi
– Keterangan

Hal ini tentu bisa kita terapkan sampai pada ibadah wadah-wadah kategorial, agar memudahkan kita mentracking Tingkat kehadiran umat/jemaat. Setelah itu tinggal kita masukkan ke dalam Rekap bulanan dan Dasboard inti (Perbandingan Target & Realitas).

Dengan demikian, seyogyanya ini menjadi perhatian dan catatan bagi kita semua. Ingat! gereja yang hebat bukan gereja dengan gedung tertinggi. Gereja yang hebat adalah gereja dengan kursi yang hangat oleh duduknya jemaat yang haus akan Tuhan.

Jika tidak paham, tanyakan pada rumput yang bergoyang di Kalimbu-Sanggase-Okaba. Salam

Related Posts

Siapa sih yang untung dari proyek padi ini?

Oleh Wensi Fatubun TANGGAPAN Roy Sugianto, seorang imam Katolik Keuskupan Amboina yang sedang melayani di Keuskupan Agung Merauke, terhadap surat terbuka dari Solaiman Itlay, seorang intelektual muda asli Papua, pada…

Read more

Susteran Marantha Bersaksi: Air Mata untuk Tanah yang Sekarat

(Refleksi Film Dokumenter Investigasi Pesta Babi) Oleh : Pdt. Andre Serhalawan Bertempat di gedung Susteran Marantha Waena, malam ini terasa panas menikam. Tapi panas ini membakar semangat yang menyala dihadapan…

Read more

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You Missed

Siapa sih yang untung dari proyek padi ini?

  • By Admin
  • April 16, 2026
  • 7 views
Siapa sih yang untung dari proyek padi ini?

Susteran Marantha Bersaksi: Air Mata untuk Tanah yang Sekarat

  • By Admin
  • March 6, 2026
  • 69 views
Susteran Marantha Bersaksi: Air Mata untuk Tanah yang Sekarat
  • By Admin
  • March 1, 2026
  • 33 views

Bisnis Adalah Perampokan dan Perlawanan Adalah Kejahatan: Sebuah Drama Twain di Ujung Timur Indonesia

  • By Admin
  • February 22, 2026
  • 16 views
Bisnis Adalah Perampokan dan Perlawanan Adalah Kejahatan: Sebuah Drama Twain di Ujung Timur Indonesia

Cermin Kata: Refleksi Karakter Manusia di Balik Objektivitas Tulisan

  • By Admin
  • February 17, 2026
  • 21 views
Cermin Kata: Refleksi Karakter Manusia di Balik Objektivitas Tulisan

MEMBANGGAKAN FOOD ESTATE, MENGHANGUSKAN LUMBUNG PANGAN LOKAL: SEBUAH NARASI KRITIS UNTUK MEMPERTEGAS POSISI PGI TERKAIT DENGAN PENOLAK PSN FOOD ESTATE DI MERAUKE PAPUA SELATAN

  • By Admin
  • February 16, 2026
  • 35 views
MEMBANGGAKAN FOOD ESTATE, MENGHANGUSKAN LUMBUNG PANGAN LOKAL: SEBUAH NARASI KRITIS UNTUK MEMPERTEGAS POSISI PGI TERKAIT DENGAN PENOLAK PSN FOOD ESTATE DI MERAUKE PAPUA SELATAN