Mimbar Tanpa Batas: Gereja Menjawab Isu Sosial dengan Karya Nyata

Gereja bukan sekadar bangunan dengan menara yang menjulang, bukan hanya ritual ibadah di balik tembok-tembok yang aman. Gereja adalah tangan Kristus yang terjulur, kaki-Nya yang melangkah ke pelosok derita, dan suara-Nya yang bergema di tengah pergumulan umat. Iman tanpa perbuatan adalah mati dan Gereja Protestan Indonesia di Papua (GPI Papua) melalui Badan Pengembangan Ekonomi (BPE) membuktikannya dengan tindakan nyata.
Di Distrik Okaba, Kabupaten Merauke, jeritan kemiskinan dijawab dengan kreativitas dan kerja keras. Lewat briket tempurung kelapa, coco peat, coco fiber, VCO dan produksi minyak goreng kelapa, BPE GPI Papua mengubah limbah menjadi berkah. Ini bukan sekadar proyek, tapi keberlanjutan harapan hasil kolaborasi dengan Yayasan Econusa, Yayasan Dahetok Milah Lestari, dan Klasis GPI Papua Okaba. Ekonomi tumbuh, kehidupan pun bergerak.

Tapi gereja tak berhenti di situ. Ketika anak-anak Papua bertarung melawan stunting dan malnutrisi, BPE GPI Papua hadir dengan solusi: 600 ayam petelur yang dikelola umat di Distrik Kaptel dan Okaba. Tak cukup sampai di sini targetnya 2.000 ekor, karena setiap telur yang dihasilkan adalah nutrisi untuk masa depan yang lebih cerah.

Di kampung Soa, Bupul, dan Kaliki, petani asli Papua menyimpan kekayaan yang terpendam: sagu, pisang, gastor, mete, dan nanas. Tahun 2025, BPE GPI Papua melatih mereka mengolahnya dari tepung sagu hingga mie, dari nanas menjadi selai, keripik, bahkan sirup. Ikan gastor tak lagi sekadar dijual mentah, tapi diubah menjadi minyak albumin dan kapsul penyembuh, untuk membantu pemulihan pasca-operasi.

Inilah gereja yang hidup gereja yang turun ke lapangan, mendengar jeritan, dan menjawab dengan karya. Bukan dengan kata-kata indah, melainkan dengan tangan yang berkeringat, hati yang peduli, dan iman yang berjalan. Karena Tuhan tidak dimuliakan oleh doa-doa yang diam, tapi oleh iman yang bergerak, yang mengubah derita menjadi harapan, yang membuat firman-Nya nyata dalam setiap tindakan.

Soli Deo Gloria!

Related Posts

Bawang goreng kenari suku Lauje

Oleh :  Esther Telaumbanua Di tengah persidangan SMSA – GPI 2025 kemaren, ada oleh-oleh yang menarik perhatian peserta terutama kaum perempuan. Bawang goreng!  Bawang goreng memang akrab di lidah kaum…

Read more

Kolaborasi Hangat di Enggol Jaya: Klasis GPI Papua Muting, YDML, dan Masyarakat Wujudkan Usaha Mandiri

Muting, Merauke – Semangat kemandirian ekonomi menggelora di Kampung Enggol Jaya, Distrik Muting. Pada Selasa, 30 September 2025, para ibu dan bapak dari masyarakat asli Papua dengan penuh antusias mengikuti…

Read more

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You Missed

Siapa sih yang untung dari proyek padi ini?

  • By Admin
  • April 16, 2026
  • 7 views
Siapa sih yang untung dari proyek padi ini?

Susteran Marantha Bersaksi: Air Mata untuk Tanah yang Sekarat

  • By Admin
  • March 6, 2026
  • 69 views
Susteran Marantha Bersaksi: Air Mata untuk Tanah yang Sekarat
  • By Admin
  • March 1, 2026
  • 32 views

Bisnis Adalah Perampokan dan Perlawanan Adalah Kejahatan: Sebuah Drama Twain di Ujung Timur Indonesia

  • By Admin
  • February 22, 2026
  • 16 views
Bisnis Adalah Perampokan dan Perlawanan Adalah Kejahatan: Sebuah Drama Twain di Ujung Timur Indonesia

Cermin Kata: Refleksi Karakter Manusia di Balik Objektivitas Tulisan

  • By Admin
  • February 17, 2026
  • 21 views
Cermin Kata: Refleksi Karakter Manusia di Balik Objektivitas Tulisan

MEMBANGGAKAN FOOD ESTATE, MENGHANGUSKAN LUMBUNG PANGAN LOKAL: SEBUAH NARASI KRITIS UNTUK MEMPERTEGAS POSISI PGI TERKAIT DENGAN PENOLAK PSN FOOD ESTATE DI MERAUKE PAPUA SELATAN

  • By Admin
  • February 16, 2026
  • 35 views
MEMBANGGAKAN FOOD ESTATE, MENGHANGUSKAN LUMBUNG PANGAN LOKAL: SEBUAH NARASI KRITIS UNTUK MEMPERTEGAS POSISI PGI TERKAIT DENGAN PENOLAK PSN FOOD ESTATE DI MERAUKE PAPUA SELATAN