Oleh : Pdt. Andre Serhalawan
Pagi ini saya ingin sedikit mengulik seorang tokoh Bernama Mark Twain. Sebenarnya saya pun tidak mengetahui siapa dirinya! Kebetulan saja dalam perjalanan dari Makasar menuju ke Sorong, saya membaca beberapa foto yang telah saya ‘save’ dari sebuah group di Facebook Bernama Benua Sabda. Tulisan itu berbunyi demikian “Ketika orang kaya merampok orang miskin itu disebut bisnis. Tapi, Ketika orang miskin melawan itu disebut kekerasan”! Kata-kata setajam silet ini menyayat rasa kaingin-tahuan saya untuk mengenal lebih jauh siapa itu Mark Twain.
Mungkin bagi sebagian kita pun sama halnya tidak mengenal siapa itu Mark Twain. Rupanya, ini hanya sebuah nama pena dari Samuel Langhorne Clemens. (Untuk tujuan penulisan ini, izinkan saya akan menggunakan nama Twain). Ia adalah seorang novelis terkenal, dosen, pengusaha dan juga seorang ‘stand up comedy’ atau humoris.
Selain itu, Twain juga adalah seorang pengamat tajam yang hidup di zaman gegap gempita kapitalisme Amerika pasca perang saudara, di mana uang menjelma menjadi ‘tuhan’ baru dan kesenjangan sosial menganga lebar. Twain menyaksikan sendiri bagaimana etos kerja dan moralitas tergerus oleh prinsip kebebasan, persamaan kesempatan dan pengejaran kesejahteraan (American Way of Life) yang penuh kepalsuan dan kemunafikan . Kritiknya yang paling keras lahir dari pergulatannya dengan realitas pahit bahwa di negeri yang mengklaim sebagai tanah kebebasan, manusia bisa diperlakukan sebagai komoditas, dirampas haknya atas nama kemajuan dan pembangunan, dan ketika mereka bersuara, suara itu dibungkam dengan tuduhan .
Kritik Twain terhadap kelas kaya dan penguasa bukan muncul dari kecemburuan sosial, melainkan dari kemanusiaannya yang mendalam. Dalam novel-novelnya, ia menggambarkan bagaimana sistem kapitalisme tidak hanya memperbudak secara fisik, tetapi juga melucuti sisi-sisi kemanusiaan dari mereka yang lemah, menjadikan mereka alat untuk kepentingan dan keuntungan segelintir orang. Twain mengecam imperialisme, materialisme, dan bagaimana kekuasaan bersekongkol dengan bisnis untuk menindas.
Twain menuliskan dengan ironi yang menusuk tentang bagaimana nilai seorang manusia diukur dari tebalnya dompet, seperti dalam cerita pendeknya “The Million Pound Note”, di mana selembar uang mampu mengubah cara orang memperlakukan manusia hanya dalam hitungan detik (ini selaras dengan beberapa konten kreator yang menbuat social experiment tentang gold digger). Kutipan terkenalnya, “Ketika orang kaya merampok orang tertindas itu disebut bisnis, tetapi ketika orang tertindas melawan itu disebut kekerasan,” adalah intisari dari keprihatinan seumur hidupnya: sebuah akrobat bahasa yang dibuat oleh kekuasaan untuk membenarkan perampokan dan mengkriminalisasi perlawanan.
Lebih dari seabad setelah Twain wafat, kata-katanya itu bergema dengan tragis di tanah air kita sendiri, tepatnya di Merauke, Papua Selatan. Di sana, kita menyaksikan bagaimana drama yang sama dipentaskan ulang dengan panggung yang berbeda dengan para aktor yang lebih jago dalam ‘peran dan aktingnya’.
Proyek Strategis Nasional (PSN) Food Estate yang megah itu, dengan jargon swasembada pangan dan energi, telah berubah menjadi kisah klasik perampasan tanah adat . Ribuan hektar hutan dan rawa yang bagi Suku Malind Anim adalah “mama” atau ibu yang memberi kehidupan, tempat suci asal-usul mereka dibabat habis oleh ekskavator yang datang dan masuk bagai “pencuri” tanpa pernah duduk Bersama dan bermusyawarah dengan para pemilik ulayat .
Inilah wajah “bisnis” yang dimaksud Twain: konsesi seluas lebih dari 480.000 hektar, tujuh kali luas Jakarta diberikan kepada segelintir oligarki, konglomerat dengan koneksi kekuasaan, untuk menanam tebu dan padi, sementara sumber air warga keruh dan ikan-ikan yang menjadi sumber pangan lenyap. Suku Malind Anim yang telah menjaga hutan itu ribuan tahun, tiba-tiba dianggap tak punya hak atas tanah yang diinjaki, dan ketika mereka mempertahankan hidup, mereka berhadapan dengan aparat yang mengawal pembongkaran hutan.
Apa yang dilihat Twain kala itu, kini berwujud nyata kembali! Ketika korporasi dan oligarki, dengan restu kekuasaan, merampas tanah adat, menggusur sumber penghidupan, dan menghancurkan ekosistem yang telah dijaga turun-temurun, itu semua diberi nama yang halus dan agung yakni Investasi, Pembangunan, Proyek Strategis Nasional (PSN). Mereka disebut sebagai pahlawan swasembada, pembuka lapangan kerja, agen modernisasi. Para penguasa dan pengusaha ini, seperti dikritik pedas oleh Uskup Timika, bertindak dengan “ketamakan dan kerakusan” yang dilandasi “roh kejahatan kapitalisme,” mengorbankan keutuhan alam dan masa depan masyarakat adat demi keuntungan segelintir orang . Negara, yang seharusnya melindungi seluruh tumpah darah, dalam konteks ini tampak seperti ‘satpam’nya para perampok, mengamankan lahan untuk para investor. Menteri Koordinator Pangan sendiri dengan terang-terangan menyatakan bahwa swasembada “memerlukan buka lahan baru,” sebuah pembenaran yang langsung menusuk jantung hak hidup masyarakat adat .
Lalu, ketika Suku Malind Anim melawan. Ketika mereka memasang palang, ketika mereka berteriak tanah mereka dirampok, ketika mereka menolak menjadi penonton di rumah mereka sendiri, mereka tidak disebut sebagai pejuang kedaulatan pangan leluhur. Mereka dilabeli: penghambat pembangunan, pemberontak, pengganggu stabilitas investasi. Presisi kata Twain begitu mematikan. Tindakan mempertahankan hidup, hutan, dan identitas budaya, seketika berubah menjadi “kekerasan” atau tindakan kriminal di mata mereka yang berkuasa.
“Terus hutan itu kan kita orang Malind, kita punya budaya itu kan kita harus ambil dari hutan” kata Yakobus Mahuze. Pertanyaan retorisnya adalah gugatan terhadap nalar pembangunan yang buta budaya dan serakah. Ini bukan sekadar soal ekonomi, ini adalah soal eksistensi dan identitas orang Malind. PGI dan GPI Papua pun datang bertemu dan mendengar keluhan “perampasan, pencaplokan, penyerebotan” yang dilakukan korporasi terhadap hak ulayat . Namun, di hadapan kekuatan modal dan negara, suara mereka bagaikan jeritan di padang gurun.
Mark Twain mengajarkan kita untuk tidak pernah tunduk pada narasi tunggal kekuasaan. Ia mengajak kita melihat dengan jernih: di balik gemerlap “bisnis” dan “pembangunan”, sering kali tersembunyi wajah perampokan yang tak jauh beda dengan praktik kolonialisme masa lalu. Kalau Mark Twain masih hidup, pasti ia akan berkata keserakahan korporat yang bersekutu dengan negara, dan penderitaan rakyat kecil yang harus membayar harga mahal dari “kemajuan” yang dipaksakan. Mereka menyebutnya bisnis, kita melihat perampokan. Mereka menyebutnya pembangunan, kita melihat penghancuran. Mereka menyebut masyarakat yang melawan sebagai pemberontak, tetapi sejarah dan hati nurani akan mencatat mereka sebagai penjaga martabat kemanusiaan dan peradaban!!!
Bagi saya, saatnya kita meminjam mata Twain dan pisau analisisnya untuk melihat dan membedah realitas ini: jangan biarkan kekuasaan mendefinisikan kejahatan sebagai kebaikan, dan perlawanan sebagai kejahatan. Karena pada akhirnya, yang disebut “bisnis” oleh para perampok, adalah “kekerasan” paling nyata yang dialami oleh mereka yang tanah dan masa depannya dirampas! Perlawanan Suku Malind Anim bukanlah teror, melainkan memori masa depan. Ini adalah sebuah perjuangan untuk memastikan bahwa pembangunan tidak berjalan di atas kuburan peradaban, melainkan tumbuh dengan menghormati kehidupan dan keadilan.
Salam waras! Jika bingung, tanyakan lagi pada rumput di Klademak!
Sorong, 23 Februari 2026.





