Oleh: Pdt. Andre Serhalawan
Pernahkah kita mendengar sebuah kata bijak yakni “Kata-kata adalah jiwa yang menjelma dalam tinta.”? Ya, hampir sewindu sudah, pertanyaan yang sama terus menghampiri saya. Datang silih berganti, kadang dari teman-teman sejawat juga dari adik-adik muda yang dengan setia (atau mungkin sekadar iseng-iseng?) membaca coretan-coretan saya di blog kompasiana, pojokmanhingian ataupun linimasa media sosial.
Pertanyaan itu kurang lebih begini bunyinya (dalam dialek khas Papua) : “Kaks, kenapa sekarang ini banyak sekali orang yang tiba-tiba dong jago menulis e? “De pu tulisan pu panjang apa!, rapi, sistematis, dan dong su seperti filsul saja! Sa kira ddia mungkin su menjelma jadi Plato atau Foucault (tidak tahu de kenal pace dua nie ka tidak hehe), kadang dong jadi ahli Alkitab juga. Padahal, sa tahu de ini tidak punya sejarah sebagai penulis atau punya tulisan di FB kah. Lalu, mamayooo tiba-tiba barang ini muncul? Sungguh, ini mujizat ka apa ee?”
Saya hanya bisa tersenyum. Kemudian, saya menjawab dengan pertanyaan balik: “Pernah dengar istilah mie instan atau instant noodle? Sekarang ada juga ada istilah penulis instan atau instant writer.” Yang ingin saya katakan bahwa saat ini, kita sedang hidup di zaman yang sungguh ajaib sekaligus menggelikan. Zaman di mana setiap orang bisa tiba-tiba menjadi Kahlil Gibran, padahal sebelumnya dia tidak pernah tahu siapa itu Kahlil Gibran. Cukup bermodal prompt yang jitu dan tepat di website AI, maka mengalirlah ratusan kata puitis yang membuat pembaca terharu, padahal si penulis sendiri tidak mengerti apa yang dia tulis.
Apakah ini dosa? Tentu tidak! Ah, saya bukan hakim yang akan menghakimi orang menggunakan AI. Terkadang saya sendiri bertanya dalam hati: “Tuhan, Untuk apa Engkau hadirkan teknologi ini?” Tapi izinkan saya katakan: Ada yang jauh lebih berharga dari sekadar kepandadian merangkai kata yakni karakter yang tertuang dalam setiap huruf ataupun diksi yang digunakan!
Saya mengajak kita flashback sejenak. Jauh sebelum Chat GPT, Deepseek, dan kawan-kawannya itu lahir dan berjamur seperti cendawan di musim hujan, dunia ini sudah punya para penulis besar. Mereka menulis bukan karena prompt, tapi karena panggilan jiwa. Mereka menuangkan bukan sekadar data, tapi juga darah dan air mata.
Sebut saja penulis besar seperti Pramoedya Ananta Toer yang menulis di balik jeruji penjara, karyanya tetap bergema hingga kini. Tuan Tan Malaka yang tulisannya melompat-lompat tapi isinya menghentak kesadaran. Presiden Soekarno yang pidato dan tulisannya bukan sekadar susunan kata, tapi api yang membakar semangat. Atau sang pujangga kelas elit yakni Chairil Anwar yang puisinya “Aku” itu benar-benar bernas. Ada pula karya W.S. Rendra si Burung Merak yang kicauannya adalah kritik sosial. Dan salah satu penulis senama dengan saya yakni Andrea Hirata yang dari Belitung menghadirkan Laskar Pelangi yang mendunia.
Lebih dari pada itu, karena saya ini rohaniawan Protestan maka izinkan saya menyebut para penulis yang tulisannya terus membekas di hati dan pikiran saya seperti Pdt. Eka Darmaputera, yang teologi dan etikanya membuat saya bergumul bermalam-malam. Pdt.Gerrit Singgih, yang hermeneutikanya membongkar cara saya membaca Alkitab. Pdt.Eben Lumban Timo, yang tulisannya tentang budaya dan gereja membuat saya mengerti bahwa Tuhan tidak hanya bicara dalam bahasa Ibrani. Pdt.Izak Lattu, yang dengan rendah hati berdiskusi bersama saya tentang ingatan dan tradisi lisan (kadang pula lewat chating WA). Pak Andar Ismail, lewat buku-buku kecilnya justru menghantam besar. Frans Magnis Suseno, si Romo yang kalem tapi tulisannya menusuk kalbu (hampir semua buku dan karya beliau saya koleksi dan menjadi bacaan favorit sebelum tidur). Henry Manampiring, si penulis Filosofi Teras yang mengajak saya pulang ke akal sehat. Dan Romo F. Budi Hardiman, yang membuat filsafat tidak lagi seperti monster menakutkan. Tentu, masih banyak lagi. Maaf jika ada yang tidak tersebut bukan sengaja, tapi terlalu banyak sehingga tidak mampu saya uraikan satu per satu.
Terus apa kaitannya dengan judul di atas dengan tulisan ini? Nah, inilah yang hendak saya sampaikan! Ketika saya membaca buku-buku filsafat, saya bisa langsung menebak: “Ah, ini pasti tulisan Romo Magnis.” Kenapa? Karena ada satu-dua kata yang khas. Ada cara merangkai kalimat yang hanya beliau punya (mungkin pula hal ini dipengaruhi oleh pengalaman menjadi editor ketika masih aktif mengajar di kampus). Ada rasa yang tidak bisa ditiru meski oleh AI tercanggih sekalipun. Saya pernah coba eksperimen kecil-kecilan. Saya minta AI meniru gaya Romo Magnis. Hasilnya? Rapi. Sistematis. Referensi lengkap. Tapi, maaf terasa hampa. Seperti sayur tanpa garam.
Mengapa? Karena karakter tidak bisa dipromt. Jiwa tidak bisa di’deepseek’. Rasa dan asa adalah domain yang hanya Tuhan dan manusia yang mengalaminya sendiri. AI bisa meniru bentuk, tapi tidak bisa meniru ruh. AI bisa menyusun kata, tapi tidak bisa merasakan getar di ujung jari ketika menuliskan sesuatu yang lahir dari pergumulan. Coba bacalah tulisan Pdt.Eka Darmaputera tentang nasionalisme dan kekristenan, pasti anda akan merasakan seorang yang bergulat dengan bangsanya. Baca pula buku Andar Ismail tentang “Selamat” dan “Selamat Pagi”, saya jamin anda akan tersenyum sambil berkaca-kaca. Bagi mereka pecinta buku filsafat mohon baca karya F. Budi Hardiman tentang demokrasi, anda akan diajak berpikir bukan sekadar tahu.
Itu semua tidak bisa dipalsukan. Jadi, tentunya saya tidak melarang orang menggunakan AI. Saya sendiri kadang pakai untuk riset cepat atau mencari referensi, atau sekedar mencari judul yang menarik dari setiap tulisan yang saya buat!
Terakhir lewat tulisan ini saya ingin sampaikan bahwa : “Jangan biarkan AI menuliskan hidupmu!” Karena jika engkau membiarkan AI menulis essaimu, esai itu mungkin indah. Tapi jika engkau membiarkan AI menuliskan pergumulanmu, pergumulan itu kehilangan salibnya. Jika engkau membiarkan AI menuliskan sukacitamu, sukacita itu kehilangan tawanya. Jika engkau membiarkan AI menuliskan air matamu, air mata itu kehilangan asinnya dan asin itulah yang menyembuhkan.
So, Saya ingin menutup tulisan ini dengan pesan bahwa di zaman yang serba instan ini, jadilah penulis yang tidak instan. Tetaplah bergumul. Tetaplah menangis. Tetaplah bertanya pada malam hari ketika sepi. Karena dari sanalah karakter lahir. Dari sanalah tulisan yang punya nyawa tercipta dan bercerita. AI bisa meniru kata-kataku, tapi tidak bisa meniru hatiku. Sebab hatiku adalah milik Tuhan. Dan tulisan yang lahir dari hati yang digenggam Tuhan itulah yang akan bertahan, meski zaman berganti dan teknologi berlalu.
Selamat menulis dengan jiwa! Kalau tidak bisa menulis dengan jiwa, maka tanyakan kepada rumput yang bergoyang bagaimana tipsnya.
Wasallam!!!!





