Sebuah Mimpi, Segudang Pengorbanan dari Queen si Petarung Kecil

Dari ujung timur Indonesia, tepatnya dari Merauke, Papua Selatan, datanglah seorang petarung kecil. Namanya Queen Felicia Christiani, tapi semua orang memanggilnya Queen. Di usianya yang baru delapan tahun, ia punya nyali yang mungkin bisa membuat kita, orang dewasa, merasa malu. Impian besarnya? Bertanding di kejuaraan renang tingkat nasional, Indonesia Open Aquatic Championship (IOAC) 2025 di Jakarta.

Bayangkan, ada 1.600 atlet akuatik terbaik dari seluruh Indonesia berkumpul di sana. Hanya untuk cabang renang, pesertanya sekitar 1.000 orang! Tapi di tengah kerumunan atlet yang mungkin lebih tinggi, lebih besar, dan lebih berpengalaman, sosok Queen yang mungil justru punya cerita paling berkesan.

Sementara anak-anak sebayanya mungkin asyik dengan boneka atau permainan rumah-rumahan, dunia Queen adalah tentang hembusan napas, kibasan lengan, dan sentuhan dinding kolam. Hampir empat kali seminggu, ia setia menghabiskan waktunya berlatih, menempa setiap otot dan nalurinya untuk menjadi yang tercepat. Dua tahun bergabung dengan Kali Maro Swimming Club telah mengukirnya menjadi atlet cilik yang berpengalaman, dengan segelintir kejuaraan daerah di Jayapura, Manado, dan Palu di dalam sakunya.

Namun, jalan menuju IOAC 2025 bukanlah lapisan air yang jernih. Ia dipenuhi riak-riak rintangan, terutama biaya. Sebuah percakapan haru antara Queen dan mamanya menjadi bukti nyata betapa besar keinginannya. “Anak saya ini memaksa untuk harus mengikuti IOAC,” ujar sang Mama, suaranya bergetar mengenang. “Saya coba jelaskan, Nak, ke Jakarta butuh biaya yang sangat besar. Saat ini mama dan papa tidak punya modal.”

Tapi jawaban Queen, yang polos tapi penuh keyakinan, bikin mamanya menangis.

“Tapi, Ma, renang itu impian dan kebahagiaan Queen.”

Kata-kata itu bagai pisau tajam yang menyentuh relung hati terdalam seorang ibu. “Jujur, saya menangis,” akunya. Air mata yang mengalir bukanlah tanda kelemahan, melainkan wujud haru dan kebanggaan sekaligus kecemasan. Sebagai orang tua, mereka pun bangkit. Proposal dikirimkan ke berbagai dinas dan calon donatur. Hari berganti hari, harapan berganti kecemasan. Hingga detik-detik terakhir mendekati keberangkatan, tidak ada satu pun jawaban pasti yang datang.

Queen, dengan kepolosannya, terus mendesak. “Ma, kapan kita berangkat? Lomba sudah dekat lho.”

Hati mana yang tidak teriris? Melihat semangat anaknya yang begitu membara, akhirnya keluarga ini memutuskan untuk pasang kuda-kuda. Mereka berjuang sendiri, mengumpulkan dana seadanya, dengan satu tekad: apapun yang terjadi, Queen harus sampai ke Jakarta.

Dan akhirnya, dengan diiringi doa dan usaha maksimal, Queen bersama tiga temannya dari Kali Maro Swimming Club berhasil terbang ke Jakarta. Nama Merauke pun dibawa dengan bangga.

Di kolam kompetisi, pertarungan sesungguhnya dimulai. Queen mengikuti lima nomor lomba. Bayangkan, di usianya yang delapan tahun, ia harus berhadapan dengan perenang junior yang usianya jauh di atasnya. Tubuhnya mungkin yang terkecil, tapi semangatnya? Bisa jadi yang terbesar.

Apakah Queen menang? Mungkin di stopwatch, waktu Queen bukan yang tercepat. Tapi bagi siapa pun yang tahu perjuangannya, Queen adalah pemenang sejati.

Kemenangannya bukan di garis finis, tapi dimulai dari saat ia berani memimpikannya. Kemenangannya ada di setiap desahan napasnya saat ia meyakinkan mamanya. Kemenangannya ada di setiap tetes keringat orang tuanya yang berusaha mewujudkan mimpi anaknya.

Queen Felicia Christiani pulang ke Merauke mungkin tanpa medali. Tapi ia membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah cerita tentang bagaimana seorang anak kecil dari ujung Indonesia tidak takut untuk bermimpi besar, dan berani memperjuangkannya sampai ujung tenaga.

Ia mengajarkan pada kita, bahwa terkadang, pemenang sejati bukanlah mereka yang paling cepat sampai ke garis akhir, tapi mereka yang punya keberanian paling besar untuk berada di garis start. Dan Queen, petarung kecil kita, telah membuktikannya.

Related Posts

Siapa sih yang untung dari proyek padi ini?

Oleh Wensi Fatubun TANGGAPAN Roy Sugianto, seorang imam Katolik Keuskupan Amboina yang sedang melayani di Keuskupan Agung Merauke, terhadap surat terbuka dari Solaiman Itlay, seorang intelektual muda asli Papua, pada…

Read more

Susteran Marantha Bersaksi: Air Mata untuk Tanah yang Sekarat

(Refleksi Film Dokumenter Investigasi Pesta Babi) Oleh : Pdt. Andre Serhalawan Bertempat di gedung Susteran Marantha Waena, malam ini terasa panas menikam. Tapi panas ini membakar semangat yang menyala dihadapan…

Read more

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You Missed

Siapa sih yang untung dari proyek padi ini?

  • By Admin
  • April 16, 2026
  • 6 views
Siapa sih yang untung dari proyek padi ini?

Susteran Marantha Bersaksi: Air Mata untuk Tanah yang Sekarat

  • By Admin
  • March 6, 2026
  • 69 views
Susteran Marantha Bersaksi: Air Mata untuk Tanah yang Sekarat
  • By Admin
  • March 1, 2026
  • 32 views

Bisnis Adalah Perampokan dan Perlawanan Adalah Kejahatan: Sebuah Drama Twain di Ujung Timur Indonesia

  • By Admin
  • February 22, 2026
  • 15 views
Bisnis Adalah Perampokan dan Perlawanan Adalah Kejahatan: Sebuah Drama Twain di Ujung Timur Indonesia

Cermin Kata: Refleksi Karakter Manusia di Balik Objektivitas Tulisan

  • By Admin
  • February 17, 2026
  • 20 views
Cermin Kata: Refleksi Karakter Manusia di Balik Objektivitas Tulisan

MEMBANGGAKAN FOOD ESTATE, MENGHANGUSKAN LUMBUNG PANGAN LOKAL: SEBUAH NARASI KRITIS UNTUK MEMPERTEGAS POSISI PGI TERKAIT DENGAN PENOLAK PSN FOOD ESTATE DI MERAUKE PAPUA SELATAN

  • By Admin
  • February 16, 2026
  • 34 views
MEMBANGGAKAN FOOD ESTATE, MENGHANGUSKAN LUMBUNG PANGAN LOKAL: SEBUAH NARASI KRITIS UNTUK MEMPERTEGAS POSISI PGI TERKAIT DENGAN PENOLAK PSN FOOD ESTATE DI MERAUKE PAPUA SELATAN