Valentine, Antara Rayakan Cinta atau Jerat Romantisme Palsu?

Oleh : Pdt. Andre Serhalawan

Disclaimer dulu ya, pertama bahwa tulisan ini adalah opini pribadi yang tidak mewakili siapapun. Kedua, tulisan ini adalah karya yang sudah lama saya buat tetapi baru bisa diposting saat ini bertepatan dengan Hari Valentine. Ketiga, apabila ada perbedaan pendapat dan pandangan hal itu sah-sah saja. Keempat, selamat menikmati refleksi pendek ini ya.

Setiap tanggal 14 Februari, dunia seolah berubah menjadi lautan merah muda. Bagi para pendukungnya, Hari Valentine adalah momen sakral yang dinanti-nantikan. Mereka melihatnya sebagai kesempatan istimewa untuk mengekspresikan cinta secara lebih intens, sebuah “izin” resmi di tengah hiruk-pikuk kehidupan untuk berhenti sejenak dan mengatakan “aku sayang kamu” . Perayaan ini dianggap sebagai pengingat yang indah, sebagaimana fungsi ulang tahun atau hari jadi, untuk merayakan pasangan dengan cara yang istimewa. Lebih dari sekadar romantisme, Valentine modern telah berevolusi menjadi perayaan inklusif, meluas tidak hanya untuk kekasih, tetapi juga untuk keluarga, sahabat (Galentine’s Day), bahkan untuk diri sendiri sebagai bentuk apresiasi atas hubungan yang tulus dalam segala bentuknya .

Buat yang setuju, Valentine tuh kayak “hari libur nasional-nya cinta”. Mereka memakluminya sebagai momentum yang sah untuk menunjukkan kasih sayang secara lebih eksplisit. Dalam keseharian yang sibuk dan penuh rutinitas kerja lembur, urusan rumah tangga, atau sekadar kelelahan setelah seharian beraktivitas seringkali kita lupa atau malas untuk bilang “sayang” ke pasangan. Nah, Valentine ini jadi semacam alarm pengingat yang manis. “Eh, sudah setahun nih, masa tidak ada gesture spesial?” Ada semacam kelegaan psikologis karena ada tanggal yang melegitimasi kita untuk bersikap romantis.

Selain itu, banyak yang berargumen bahwa Valentine sekarang tidak melulu soal pacar. Ada yang merayakannya dengan sahabat, makan-makan bareng teman kantor yang masih single, atau bahkan “self-love” dengan membeli hadiah untuk diri sendiri. Jadi, bagi mereka, ini adalah perayaan inklusif untuk semua bentuk kasih sayang. Tidak ada salahnya, kan, merayakan hubungan baik dengan orang-orang terdekat?

Tapi, di sisi lain, ada suara yang tidak kalah keras: para penolak Valentine. Mereka menyebut hari ini sebagai puncak dari romantisme palsu. Dan jujur, argumen mereka masuk akal banget. Coba kita lihat fenomena di sekitar. Harga bunga mawar tiba-tiba meroket tiga kali lipat. Restoran mewajibkan menu paket yang harganya bisa untuk makan seminggu. Tekanan sosialnya pun tidak main-main. Media sosial dibanjiri foto-foto pasangan dengan hadiah mewah, bunga selusin, dan wajah bahagia yang sempurna. Ini bikin banyak orang, terutama yang sedang PDKT atau baru pacaran, merasa terpaksa harus melakukan hal serupa, kalau tidak mau dibilang “tidak romantis”.

Inilah romantisme palsu yang dimaksud: cinta yang dipaksa tampil dengan standar tertentu, di waktu tertentu, dan dengan budget tertentu. Cinta yang tadinya personal dan tulus, tiba-tiba jadi ajang pamer dan adu gengsi. Ujung-ujungnya, banyak yang malah stres, kecewa, atau berutang demi memenuhi ekspektasi dan validasi yang tidak realistis. Lebih parah lagi, bagi mereka yang sedang sendiri, patah hati, atau baru putus, Valentine bisa jadi hari yang paling menyedihkan. Mereka seolah disudutkan oleh narasi bahwa kebahagiaan itu hanya milik mereka yang berpasangan. Hhmmmm, tidak adil sekali, kan?

Jadi, pertanyaannya, di tengah hiruk-pikuk antara rayakan atau tidak, antara gengsi dan tulus, yang mana sih sebenarnya kasih yang sejati itu? Nah, kalau kita berkaca ke Alkitab, definisi kasih sejati itu benar-benar beda level. Tidak pakai bunga, tidak pakai cokelat, apalagi paket dinner yang mahal. Kasih versi Tuhan ini disebut Kasih Agape. Kasih ini tidak berdasarkan perasaan semata atau untung rugi. Kasih ini adalah keputusan dan tindakan untuk mengasihi tanpa syarat, bahkan ketika kita tidak layak dikasihi.

Mari kita lihat saja 1 Yohanes 4:9-10. Di jelas bahwa, “Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.”

Bayangkan kamu lagi punya masalah besar, mungkin sampai bikin malu keluarga atau teman-teman, terus ditinggal semua orang karena mereka jijik atau malu sama kamu. Nah, di saat kamu paling terpuruk dan tidak punya apa-apa untuk ditawarkan, tiba-tiba ada orang yang rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan nyawanya buat selamatkan kamu. Bukan karena kamu baik, tapi karena dia memang memilih untuk mengasihimu. Itulah ilustrasi kecil dari Kasih Agape. Tuhan tidak kasih kita sekotak cokelat manis saat kita “nakal”. Dia kasih diri-Nya sendiri buat nebusi dosa kita, bahkan saat kita masih memberontak. Tidak ada bunga atau hadiah termahal yang bisa menandingi itu.

Kemudian, dalam 1 Korintus 13:4-7, kita dikasih “checklist” kasih yang praktis banget buat kehidupan sehari-hari. Bunyinya, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”

Mari kita bawa ke keseharian yang lebih konkret:
– “Kasih itu sabar”: Pasangan kamu hari ini lagi bad mood, bawel, atau marah-marah tidak jelas. Di Valentine, kamu mungkin niatnya mau kasih kejutan romantis. Tapi dia malah ngambek karena kamu telat jemput. Kasih sejati versi Alkitab itu, kamu tetap sabar menghadapinya, tidak langsung balik ngambek atau membatalkan niat baikmu. Kamu tetap berusaha menenangkannya, bukan malah ngambek karena “ucapan terima kasih” tidak datang-datang.
– “Ia tidak mencari keuntungan diri sendiri”: Kamu sudah susah payah beliin hadiah, booking restoran, pokoknya sangat effort. Tapi pas hari H, pasangan kamu malah sakit. Di sinilah ujiannya. Apakah kamu kecewa karena “investasi” kamu untuk mendapat pujian atau senyum manis jadi sia-sia? Atau kamu malah mengalah, batalkan semua rencana, dan milih temenin dia minum obat di rumah? Kasih sejati itu tidak hitung untung rugi. Kasih sejati itu ketika kamu tetap rela berkorban, meskipun hasilnya mungkin tidak sesuai ekspektasi.
– “Ia tidak menyimpan kesalahan orang lain”: Mungkin tahun lalu pas Valentine, pasangan kamu lupa kasih kado atau memberikan kado yang tidak sesuai selera. Nah, tahun ini, pas lagi diskusi mau melakukan sesuatu, jangan diungkit lagi masa lalunya. Jangan bilang, “Ah, tahun saja kamu pelit, masa tahun ini juga begitu?” Kasih sejati itu memaafkan dan memulai lembaran baru, tidak bawa-bawa dosa lama buat jadi senjata.

Jadi, dari sini kita bisa lihat bedanya. Valentine versi dunia itu fokus ke satu hari, ke estetika, ke apa yang kelihatan, dan seringkali jadi ajang transaksi. Sementara kasih sejati versi Alkitab itu fokus ke proses seumur hidup, ke karakter, ke apa yang tidak kelihatan tapi terasa, dan semuanya lahir dari keputusan untuk mengasihi tanpa pamrih.

Kasih sejati tidak butuh tanggal merah di kalender. Ia bersinar lewat segelas air yang disiapkan tanpa diminta saat pasangan kelelahan. Ia terlihat dari kesediaan mendengarkan cerita yang itu-itu aja. Ia terasa dari pelukan hangat saat pasangan gagal dan down, bukan cuma saat dia sukses dan bahagia. Inilah cinta yang tahan banting, yang tidak lekang oleh waktu dan tidak luntur oleh tren. Cinta yang bersumber dari Allah, dan hanya dengan terhubung pada-Nya, kita bisa mempraktikkannya setiap hari bahkan di hari biasa yang tidak merah jambu sekalipun.

Related Posts

Siapa sih yang untung dari proyek padi ini?

Oleh Wensi Fatubun TANGGAPAN Roy Sugianto, seorang imam Katolik Keuskupan Amboina yang sedang melayani di Keuskupan Agung Merauke, terhadap surat terbuka dari Solaiman Itlay, seorang intelektual muda asli Papua, pada…

Read more

Susteran Marantha Bersaksi: Air Mata untuk Tanah yang Sekarat

(Refleksi Film Dokumenter Investigasi Pesta Babi) Oleh : Pdt. Andre Serhalawan Bertempat di gedung Susteran Marantha Waena, malam ini terasa panas menikam. Tapi panas ini membakar semangat yang menyala dihadapan…

Read more

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You Missed

Siapa sih yang untung dari proyek padi ini?

  • By Admin
  • April 16, 2026
  • 6 views
Siapa sih yang untung dari proyek padi ini?

Susteran Marantha Bersaksi: Air Mata untuk Tanah yang Sekarat

  • By Admin
  • March 6, 2026
  • 69 views
Susteran Marantha Bersaksi: Air Mata untuk Tanah yang Sekarat
  • By Admin
  • March 1, 2026
  • 32 views

Bisnis Adalah Perampokan dan Perlawanan Adalah Kejahatan: Sebuah Drama Twain di Ujung Timur Indonesia

  • By Admin
  • February 22, 2026
  • 15 views
Bisnis Adalah Perampokan dan Perlawanan Adalah Kejahatan: Sebuah Drama Twain di Ujung Timur Indonesia

Cermin Kata: Refleksi Karakter Manusia di Balik Objektivitas Tulisan

  • By Admin
  • February 17, 2026
  • 20 views
Cermin Kata: Refleksi Karakter Manusia di Balik Objektivitas Tulisan

MEMBANGGAKAN FOOD ESTATE, MENGHANGUSKAN LUMBUNG PANGAN LOKAL: SEBUAH NARASI KRITIS UNTUK MEMPERTEGAS POSISI PGI TERKAIT DENGAN PENOLAK PSN FOOD ESTATE DI MERAUKE PAPUA SELATAN

  • By Admin
  • February 16, 2026
  • 34 views
MEMBANGGAKAN FOOD ESTATE, MENGHANGUSKAN LUMBUNG PANGAN LOKAL: SEBUAH NARASI KRITIS UNTUK MEMPERTEGAS POSISI PGI TERKAIT DENGAN PENOLAK PSN FOOD ESTATE DI MERAUKE PAPUA SELATAN